Mohammed Ikhwan
SETELAH melewati enam hari perundingan eksklusif dan tertutup (13-18 Desember 2005), keputusan mengenai adanya Ministerial Declaration sebenarnya mengejutkan seluruh pihak. Apalagi bila diingat bahwa, terutama mulai medio 2005, agenda di Konferensi Tingkat Menteri (KTM) VI Hongkong akan berujung kegagalan. Hal ini mirip KTM V Cancun, Meksiko, dimana ada jurang yang sangat besar antara negara maju dan negara berkembang. Di Hong Kong, perbedaan antara negara maju (diwakili oleh AS dan Uni Eropa), G-20 (dimotori Brazil dan India), G-33 (Indonesia dan Filipina), G-90 (negara-negara miskin di Asia dan Afrika) serta Negara Karibia, memang tampak jauh. Tetapi, dengan ditandatanganinya Ministerial Declaration Hongkong, cukup menyakitkan banyak pihak.
Nasionalisme: Siapa Takut?
Coen Husain Pontoh
MENANGGAPI pro-kontra penggarapan ladang minyak Blok Cepu, Rizal Mallarangeng (“Blok Cepu, Mission Accomplished,” Tempo, 27/3/06), menulis dengan lantangnya bahwa mereka yang anti keterlibatan ExxonMobil Oil di Blok Cepu, mengingatkannya pada kelompok Nasionalis di era 1950an dan 1960an. Berdasar ingatan itu, dengan sarkasnya ia menyatakan “Prof. Clifford Geertz harus meneliti sekali lagi di Indonesia, dan menulis buku berjudul The Involution of Mind in Jakarta.”
MENANGGAPI pro-kontra penggarapan ladang minyak Blok Cepu, Rizal Mallarangeng (“Blok Cepu, Mission Accomplished,” Tempo, 27/3/06), menulis dengan lantangnya bahwa mereka yang anti keterlibatan ExxonMobil Oil di Blok Cepu, mengingatkannya pada kelompok Nasionalis di era 1950an dan 1960an. Berdasar ingatan itu, dengan sarkasnya ia menyatakan “Prof. Clifford Geertz harus meneliti sekali lagi di Indonesia, dan menulis buku berjudul The Involution of Mind in Jakarta.”
Merebut Kembali Negara
--Tanggapan Atas Tanggapan
Syaiful Haq
ARTIKELA saya yang berjudul “Liberalisasi Sektor Keamanan,” telah mendapatkan tanggapan berbobot dari rekan Roysepta Abimanyu dan Philip Jusario Vermonte. Kiranya pantas buat saya untuk memberikan sebuah tanggapan atas tanggapan. Tujuannya untuk menjelaskan asumsi pemikiran saya dalam tulisan tersebut. Tulisan kali ini juga mencoba lebih maju dengan menyajikan bagaimana demokrasi, hak asasi manusia dan securitization, merupakan diskursus yang juga dipakai, bahkan kini didominasi oleh para pendukung neoliberalisme.
Syaiful Haq
ARTIKELA saya yang berjudul “Liberalisasi Sektor Keamanan,” telah mendapatkan tanggapan berbobot dari rekan Roysepta Abimanyu dan Philip Jusario Vermonte. Kiranya pantas buat saya untuk memberikan sebuah tanggapan atas tanggapan. Tujuannya untuk menjelaskan asumsi pemikiran saya dalam tulisan tersebut. Tulisan kali ini juga mencoba lebih maju dengan menyajikan bagaimana demokrasi, hak asasi manusia dan securitization, merupakan diskursus yang juga dipakai, bahkan kini didominasi oleh para pendukung neoliberalisme.
Pendidikan Di Kuba: A Nation Becomes a University
Coen Husain Pontoh
El Ingle, 14 Juni 1961
Kepada yang terhormat,
Perdana Menteri DR. Fidel Castro.
Saya menulis sedikit catatan kepada Anda, untuk menyatakan bahwa saya tidak tahu bagaimana menulis atau membaca. Terima kasih kepada Anda, yang telah merealisasikan rencana melek huruf ke dalam praktek. Saya juga berterima kasih kepada para guru yang telah mengajari saya, sehingga membuat saya bisa membaca dan menulis. Saya adalah seorang miliciano dan saya bekerja di koperasi Rogelio Perea. Saya sangat senang jika Anda mau berkunjung ke koperasi ini.
Viva la revolucion socialista
Patria o Muerte
Venceremos
Salam,
Felix D. Pereira Hernandez
Langganan:
Postingan (Atom)