Belajar Dari Sandinista di Nikaragua (Bagian 2)

Coen Husain Pontoh


FSLN (The Sandinista National Liberation Front/Front Pembebasan Nasional Sandinista), semula adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh sekelompok aktivis mahasiswa yang berbasis di Universitas Nasional Otonom Nikaragua (the National Autonomous University of Nicaragua). Digagas oleh José Carlos Fonseca Amador, Silvio Mayorga, and Tomás Borge Martínez, pada tahun 1961 FSLN secara resmi didirikan.
Berlawan di masa kediktatoran Somoza, para pemimpin awal Sandinista ini dengan cepat mendapatkan represi dari negara. Borge misalnya, menghabiskan beberapa tahun hidupnya di penjara. Demikian juga dengan Fonseca yang kemudian mengungsi ke Meksiko, Kuba dan Kosta Rika, untuk akhirnya menemui ajal di tangan aparatus rejim Somoza. Tetapi, karena militansi dan konsistensinya melawan rejim Somoza pada awal 1970an, FSLN dengan cepat memperoleh cukup dukungan dari petani dan kelompok-kelompok mahasiswa. Pada tahun-tahun sesudahnya, dukungan terhadap FSLN semakin membesar.

Secara ideologi, FSLN menganut garis Marxisme. Tapi, kita tidak akan menemukan sebuah penafsiran tunggal atas Marxisme. Ini bisa dilihat dari faksionalisasi yang terdapat dalam tubuh FSLN. Terdapat tiga faksi dalam tubuh FSLN: pertama, faksi yang menamakan dirinya “Perang Rakyat Jangka Panjang” (The guerra popular prolongada/"prolonged popular war"; GPP). Faksi ini berbasis di pedesaan dan dalam dalam jangka panjang “mengakumuasi kekuasaan secara diam-diam” di bagian wilayah dimana populasi petani adalah mayoritas. Kekuatan tani yang terorganisir dianggap sebagai basis bagi revolusi. Faksi ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Mao Tse Tung.

Faksi kedua menamakan dirinya “Tendensi Proletariat” (The tendencia proletaria/proletarian tendency; PT). Faksi ini merefleksikan pendekatan-pendekatan Marxis ortodoks, dan karena itu basis utama gerakannya adalah buruh perkotaan. Faksi ini dipimpin oleh Jaime Wheelock. Faksi ketiga adalah “Jalan Ketiga/Pemberontakan” (The tercerista/insurrecctionista/third way/insurrectionist; TI). Faksi ini dipimpin oleh Humberto Ortega dan Daniel Ortega Saavedra dan secara ideologi berwatak eklektik. Dalam strategi pemberontakannya, faksi ini menggalang aliansi dengan berbagai sektor dalam masyarakat seperti pengusaha, gereja, mahasiswa, kelas menengah, pemuda pengangguran, dan kaum miskin perkotaan. Faksi ini juga memeroleh dukungan internasional terutama dari kelompok profesional terkemuka Nikaragua, pemimpin-pemimpin bisnis, dan para Clergymen yang dikenal dengan nama “Group of Twelve/Kelompok Duabelas.” Kelompok ini atas dukungan pemerintah Kosta Rika, membentuk pemerintahan bayangan pengganti rejim Somoza.

Revolusi dan Garis Massa

Walaupun FSLN terpecah dalam tiga faksi, ketiganya dipersatukan oleh strategi revolusi sebagai metode yang paling efektif dalam menggulingkan rejim Somoza. Faksi-faksi itu juga diakomodir dalam sebuah kepemimpinan kolektif yang disebut National Directorate, yang kepemimpinannya diangkat.

Setelah tahun 1994, kepemimpinan National Directorate ini dipilih secara terbuka. Setiap faksi diwakili oleh tiga orang. Daniel Ortega, Humberto Ortega dan Viktor Tirade, mewakili faksi Jalan Ketiga; Jaime Wheelock, Luis Carrion dan Carlos Nunez, mewakili faksi Tendensi Proletariat; serta Tomas Borge, Bayardo Arce dan Henry Ruiz mewakili faksi Perang Rakyat Jangka Panjang. Selain itu, faksi-faksi ini dibebaskan dalam melakukan aktivitasnya sesuai dengan strategi dan taktik yang diputuskan oleh National Directorate.

Dalam menjalankan strategi revolusi ini, Sandinista menggunakan taktik perjuangan bersenjata yang dikombinasikan dengan pembangunan gerakan massa. Taktik bersenjata dipakai untuk menyerang pusat-pusat kekuatan militer Garda Nasional yang menjadi pelayan rejim Somoza. Sementara pembangunan gerakan massa didasarkan pada pfatform politik Sandinista yang menjanjikan sebuah pemerintahan yang demokratis, menjamin pluralisme politik, dan penegakan HAM. Namun demikian, secara prinsipil, taktik bersenjata kedudukannya lebih menudukung (subordinat) taktik pembangunan basis massa. Dalam bahasa Ortiz, “It really was a mass revolutionary movement, the Sandinista would have never have on military without the people!” (Roxanne Dunbar-Ortiz, “Reflection on the Sandinista Revolution and the Contras,” 2006).

Di bawah panduan garis massa, pada Juli 1970, gerakan mahasiswa, asosiasi perempuan (AMPRONAC), serikat buruh, asosiasi-asosiasi profesional, dan partai kiri tradisional membentuk sebuah koalisi besar yang dinamakan persatuan pergerakan rakyat (the United People’s Movement/MPU). Bergabung juga dalam koalisi ini adalah Partai Sosialis Nikaragua (PSN), sebagian besar partai komunis, kelompok-kelompok yang sejak awal telah melakukan perjuangan bersenjata melawan rejim Somoza, serta Front Oposisi Besar (FAO). Garis besar platform MPU adalah perubahan politik, ekonomi, dan sosial secara radikal, yang menurut mereka hanya bisa dilakukan melalui “sebuah pemerintahan dengan perwakilan partisipasipatif dari seluruh kekuatan politik, ekonomi, buruh, dan kekuatan kultural yang berkomitmen pada pembangunan bangsa dari stagnasi, ketergantungan, dan keterbelakangan yang dipaksakan oleh kediktatoran dan seluruh kawan aliansinya,” (Holly Sklar, 1988).

Pembentukan koalisi berbasis massa ini terus berlanjut dan merangkul seluruh kekuatan yang bertujuan menggulingkan rejim Somoza. Pada Februari 1979, MPU bersama-sama dengan the Group of Twelve, membentuk sebuah koalisi baru yang disebut Front Patriotic National. Turut bergabung dalam koalisi ini adalah the Popular Social Christian Party dan Independent Liberal Party. Dalam deklarasinya, front ini menyatakan prinsip-prinsip yang menitikberatkan pentingnya kedaulatan nasional, demokrasi, keadilan dan kemajuan sosial. Sebagai pra-kondisi bagi terciptanya “demokrasi yang efektif,” adalah menuntut “penggulingan kediktatoran Somoza dan penghapusan seluruh warisannya, serta penolakan terhadap seluruh manuver yang berimplikasi pada keberlanjutan sistem Somocismo tanpa Somoza” (Sklar, 1988).

Di bawah kepemimpinan Front Nasionl Patriotik, aksi-aksi massa yang dikombinasikan dengan taktik bersenjata semakin sering terjadi, yang membuat rejim Somoza semakin tersudut dan kalap. MPU kemudian membangun sebuah organisasi kekuasaan yang paralel dengan organisasi kekuasaan rejim Somoza, yang disebut People’s Power. Melalui organ ini, MPU menentang dan menantang kediktatoran dengan dukungan dari basis massa yang kuat, yang diorganisasikan ke dalam Civil Defense Committees (CDCs), basis komunitas Kristen dan organisasi-organisasi rakyat lainnya.

Pada 1979, serangan gerilyawan Sandinista semakin gencar. Pada tanggal 29 Mei, FSLN mendeklarasikan serangan terakhir terhadap rejim somoza, melalui serangkaian serangan terkoordinasi yang disusul dengan seruan pemberontakan nasional dan pemogokan umum. Deklarasi FSLN ini dijawab oleh rejim Somoza dengan memberlakukan status negara dalam bahaya pada 6 Juni. Namun posisi rejim Somoza kini dalam keadaan defensif, hidup matinya sangat ditentukan oleh dukungan Amerika Serikat. Makin lama, daerah yang dikuasai FSLN semakin luas. Pada 16 Juni, bertempat di San Jose, Kosta Rika, dideklarasikan sebuah Pemerintahan Sementara Dewan Rekonstruksi Nasional (The Provisional Government Junta of National Reconstruction).

Pemerintahan Sementara ini terdiri dari lima anggota yakni, Daniel Ortega dari FSLN, Sergio Ramirez dari Kelompok Duabelas, Alfonso Robelo dari FAO, Violeta Barios de Chamorro, seorang direktur harian liberal terkemuka La Prensa dan Moises Hassan, pemimpin MPU dan mantan dekan Universitas Nasional Otonomis Nikaragua.

Kombinasi taktik bersenjata dan gerakan massa ini makin memojokkan rejim Somoza dan pada akhirnya membuat Washington berpikir ulang atas dukungannya terhadap Somoza. Di satu sisi, Washington tak melihat lagi keuntungan untuk terus mendukung Somoza tapi, Washington juga mengkhawatirkan pengaruh FSLN yang sangat kuat dalam gerakan anti Somoza. Itu sebabnya, Washington kemudian menjalankan taktik memblok kekuatan FSLN sembari membuka peluang untuk mengkooptasi kekuatan anti Somoza di luar FSLN. Taktik baru Washington itu adalah “menginginkan agar Somoza segera mengundurkan diri sembari mendukung sebuah pemerintahan baru untuk rekonstruksi nasional." Pemerintahan baru versi Washington ini terdiri dari perwakilan National Liberal Party, kalangan Konservatif, anggota FAO lainnya dan FSLN. Selain itu, Washington juga merekomendasikan beberapan individu di luar FSLN seperti Alfonso Robelo, Adolfo Calero (direktur perusahaan Coca Cola Nikaragua), pastor Obando y Bravo, dan Eden Pastora. Pemerintahan baru ini juga nantinya akan memimpin Garda Nasional.

Tetapi, strategi Washington ini tak berjalan. Sebabnya FSLN tetap dengan strateginya semula untuk menggulingkan Somoza tanpa syarat. Pada 12 Juli, stasiun radio FSLN “Sandino,” mengumumkan bahwa wilayah Leon, Esteli, Chinandega, Matapalga dan Masaya telah berada dalam kekuasaanya. Pada 14 Juli, Junta mengumumkan nama-nama 12 anggota kabinet baru Nikaragua. Kemenangan yang diría Sandinista ini semakin mendekatkan mereka ke ibukota Managua, sementara itu Garda Nasional mengalami demoralisasi dan perpecahan yang serius. Pada 18 Juli, anggota Junta bergerak di Leon dan mendeklarasikan Leon sebaga ibukota sementara. Akhir rejim Somoza akhirnya datang juga. Pada 19 Juli, Somoza terbang ke Bahama dan Washington menyatakan bahwa rencana mereka telah gagal total di Nikaragua.

Hegemoni Popular

Ketika kekuasaan telah dalam genggaman, FSLN sebagai kekuatan politik terbesar dan terkuat dalam gerakan anti kediktatoran Somoza, konsisten dengan platform politik yang disepakatinya bersama Junta. Pemerintahan baru ini konsisten dengan platform demokrasi elektoral, puralisme politik dan ekonomi serta menjanjikan pelaksanaan pemilu secepatnya, yang direncanakan akan digelar pada 1985. Bahkan pada Agustus 1980, FSLN dalam rangka pelaksanaan pemilu pada 1985 itu, telah membentuk tim untuk mempelajari pengalaman beberapa negara dalam membentuk undang-undang tentang pemilu. Ironisnya, delegasi Sandinista dengan tujuan AS gagal masuk karena permintaan visanya ditolak.

Langkah-langkah politik yang ditempuh Sandinista ini, merupakan hal yang tidak lajim dilakukan oleh gerakan revolusioner berideologi Marxis yang juga memberi tempat pada faksi Leninis di dalamnya. Tidak ada partai tunggal yang dominan, kebebasan pers tetap dijamin, dan sebuah pemilihan umum yang sesuai dengan standar demokrasi liberal. Ini berbeda dengan Kuba, misalnya, yang tidak menganut sistem demokrasi liberal, dalam makna tidak mengenal pemisahan tiga cabang kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Apa yang dilakukan oleh FSLN ini, oleh Andrew Reding disebut sebagai “kombinasi antara penekanan Barat pada pengakuan atas hak-hak sipil dan politik dengan penekanan Marxis pada hak-hak sosial dan ekonomi” (Gary Prevost, Political Policy: The Sandinista Revolution and Democratization, 2000).

Kombinasi ini tercermin dalam konstitusi Nikaragua, yang menegaskan tentang pemisahan kekuasaan di antara empat cabang kekuasaan: eksekutif, legislatif, yudikatif, dan elektoral. Poin ini jelas-jelas mencerminkan model demokrasi Barat. Sementara dalam area ekonomi, konstitusi Nikaragua mengadopsi model Kuba, dimana secara terang-terangan mencantumkan perlindungan dari kelaparan, kehilangan tempat tinggal, jaminan sosial, kesehatan dan pendidikan, dan kesehatan lingkungan. Dalam keseluruhannya, konstitusi memerintahkan kepada pemerintah untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat ketika mekanisme pasar gagal menjamin kebutuhan mereka.

Namun demikian, FSLN menyadari bahwa demokrasi formal cenderung lebih menguntungkan para elite sembari meminggirkan lapisan bawah masyarakat. Untuk mencegah tendensi buruk itu, segera setelah revolusi 19 Juli FSLN membentuk organisasi massa. Pembentukan organisasi massa ini juga merefleksikan komitmen Sandinista untuk membentuk demokrasi dari bawah. Gagasan untuk membentuk demokrasi partisipatoris ini secara nasional tergambar dalam slogan “Logika Mayoritas,” dimana tujuan utamanya adalah terciptanya apa yang disebut Groth sebagai “Popular Hegemony” (Terri R. Groth, Conceptual Understandings of State Reform, 1998). Yang paling kuat dan terpenting di antaranya adalah Organisasi Perempuan Nikaragua (AMNLAE), Pemuda Sandinista (JS), Asosiasi Buruh Pedesaan (ATC), Pusat Buruh Sandinista (CST), dan Komite Pertahanan Sandinista (CDSs). Organisasi-organisasi massa inilah yang kemudian menjadi ujung tombak kesuksesan Sandinista dalam bidang ekonomi, sosial dan kultural.

Demikianlah, ketika Junta melaksanakan pemilu pertama yang bebas, adil dan rahasia sepanjang sejarah Nikaragua pada 1984, mayoritas rakyat memberikan suaranya pada Sandinista. Kemenangan ini mengantarkan Daniel Ortega Seevadra sebagai presiden Nikaragua.***

Catatan Redaksi: Kliki di sini untuk membaca bagian pertama dari tulisan ini.