Cerita Pendek

Panggung
Fransisca Ria Susanti

IA berhenti menjadi dirinya sendiri sejak terus-menerus diburu mimpi buruk. Ia selalu terbangun tengah malam dengan kucuran keringat yang membasahi badan. Mimpi yang sama. Kecemasan yang sama. Ia merasa dirinya berada di atas panggung, sorotan lampu yang menyilaukan, dan dengung gelisah dari ribuan mulut yang tak sabar menunggu pidatonya. Lampu yang menyilaukan mata dan kesadaran bahwa ribuan pasang mata menatapnya, membuat kepanikan nyaris memecahkan batok kepalanya.

”Aku tak mau menjadi bintang. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Tapi itu pun tak mudah,” ujarnya saat bertemu denganku, hampir enam tahun yang lalu.


 Kegelisahannya nyaris tak masuk akal bagiku. Ia mengeluhkan popularitas di saat semua orang menginginkannya. Saat ketika penghargaan terhadap semua yang serbadangkal menjadi jamak.

Aku mengenalnya sebagai seorang pemuda yang memiliki antusias dan idealisme yang meledak-ledak. Ia lahir dengan kegelisahan yang mengaduk-aduk batok kepalanya.

Ia mempertanyakan segala hal, dari urusan makan hingga eksistensi Tuhan. Ia curiga terhadap kemapanan dan memandang dengan haru biru segala bentuk kemiskinan. Argumen tentang keniscayaan tak pernah berhasil menghentikan kegelisahannya, juga tentang takdir dan garis tangan.

Saat kawan-kawan seumurnya menikmati permainan layang-layang, ia menghabiskan waktu membaca komik tentang pahlawan bertopeng yang memperjuangkan keadilan. Saat kawan-kawan seumurnya sibuk merangkai surat cinta pertama, ia sibuk membuat catatan harian tentang ketimpangan yang ia lihat di sepanjang jalan pulang sekolah.
Uniknya aku akrab dengannya, empat tahun setelah ia meninggalkan usia 17, saat seorang kawan perempuanku gelisah dengan perhatian serbacanggung yang diperlihatkannya.

”Aku memang menyukainya, sedikit lebih banyak dibanding perempuan lainnya,” ujarnya padaku saat kami akhirnya berhasil memesan kopi di kantin belakang kampus. Namun, ia tak pernah berani mengubah perasaan itu lebih dari rasa suka. Selain buku, kaset klasik, dan film-film Eropa yang diberikan kepada perempuan itu hampir setiap bulan, ia hampir tak pernah melakukan pendekatan jenis lain.

”Aku menikmati rasa berdebar saat berada di dekatnya, juga kerinduan saat berada jauh darinya. Tapi aku tak bisa membayangkan terus-menerus berada di dekatnya dalam hitungan bulan, apalagi tahun,” ucapnya.

Penjelasan itu membuat kopi yang kuminum nyaris muncrat. Sore itu, aku mulai menyadari tengah berkawan dengan seorang yang memiliki sentimentalitas di luar nalar, seorang yang menjadikan kegelisahan sebagai agamanya.

***

Lima tahun setelah percakapan di kantin itu, namanya mendadak populer laiknya nabi. Ia diusung sebagai sang pembaharu, setelah sempat menjadi buron selama sekian tahun dan penghuni hotel prodeo dalam rentang waktu tiga tahun. Rezim yang ia lawan tumbang. Suara perlawanan yang ia dengungkan sendirian beberapa tahun lalu, kini diamini oleh massa yang sebelumnya menolak bicara.

Wajahnya muncul di sejumlah stasiun TV, kata-katanya dikutip sejumlah koran, suaranya bergema dari speaker radio hingga di pelosok desa. Ia menjadi tokoh yang diidolakan, dari orang tua hingga anak-anak, dari orang dewasa hingga remaja.
Para penulis pun antre untuk membukukan kisah hidupnya karena beberapa penerbit komersial yang cukup punya nama berani membayar di muka.

Mendadak, ia berubah menjadi selebritas. Ia tak lagi sekadar diminta bicara soal politik dan masalah sosial, tapi ia juga diminta tanggapan soal puisi dan film, juga gaya rambut dan tips penampilan. Sebuah majalah lelaki bahkan menjadikan ia model, dengan siluet yang menampilkan tubuh kerempengnya, rahang yang tirus dan sorot mata yang menatap jauh ke cakrawala.

Syukurlah, dia tak perlu jadi model untuk iklan celana dalam yang harus dipasang besar-besar di baliho mal. Kalau itu yang terjadi, aku tak tahu apakah aku masih bertemu dan bicara dengannya. Karena aku membayangkan akan banyak perempuan, remaja dan ibu-ibu rumah tangga, menguntitnya dengan pesona ataupun keingintahuan yang tak masuk akal.
Ia mulai mengeluh soal popularitas saat romantika cintanya diketahui media massa. Reporter yang suka sensasi menguntitnya seperti laiknya melakukan investigasi tentang kasus korupsi. Rumah sang kekasih hati pun ditongkrongi, dari siang hingga dini hari.

”Aku kehilangan privasi,” keluhnya padaku saat pertemuan sore hari di sebuah kedai kopi. Aku terperangah. Tak menyangka bahwa lelaki yang pernah membabi buta menolak eksklusivitas dan antipati terhadap segala hal yang mengatasnamakan privasi ini tiba-tiba merasa terganggu dengan sebuah gunjingan.

Namun, caranya melontarkan keluhan itu, membuatku tak yakin bahwa ia gusar. Aku mulai khawatir bahwa ia mulai menikmati seluruh gangguan itu.

***

Dan di sinilah aku sekarang. Di sebuah lobi hotel bintang lima di negeri di mana lebih dari 100.000 perempuan dari Jawa merantau sebagai pekerja rumah tangga. Aku menunggu sosoknya, setelah sebuah informasi kuterima bahwa rombongan legislatif tengah melakukan kunjungan kerja, tapi banyak yang percaya bahwa mereka hanya menghabiskan uang negara untuk sekadar belanja dan tamasya.

Aku akhirnya bertemu dengannya, setelah menunggu hampir dua jam. Ia benar-benar menenteng tas belanja, seperti anggota legislatif lain yang tertangkap kamera mahasiwa saat berkunjung ke Eropa. Ia gugup saat kusapa dan buru-buru bicara dengan seorang yang bersegera membawakan tas tangannya.

”Mau ngopi di mana kita?” ujarnya segera menetralisir suasana.

Aku duduk di depannya, menatap lurus ke matanya. Dan ia bicara lancar soal program kerja dan beragam target yang ia sebut sebagai sebuah pencapaian politik. Aku tak paham. Aku seperti tak mengenalnya.

Saat aku mencoba bicara tentang nasib sial para perempuan migran yang tak mendapat perlindungan semestinya, ia justru berhitung soal angka, soal berapa banyak suara yang bisa terkumpul jika partai politiknya bisa mengampanyekan kasus-kasus tersebut. Ia benar-benar tak kukenali.

Ia tak lagi bicara soal mimpi buruknya, juga tidak soal kegelisahannya. Semuanya instan dan praktis. Juga soal perjalanan cintanya. Ia menikahi seorang gadis sampul yang ia jumpai pada pandangan pertama. Menikah tiga bulan kemudian dan kini tengah mengandung anaknya.

Mendadak ponselnya berdering. Matanya berbinar dan berulang mengangguk sambil mengatakan iya.
”Dari Jakarta, minta dibawain gelang giok. Katanya di sini lebih murah,” ujarnya sambil menyebut Rp 10 juta laiknya uang receh yang gampang didapat.

”Istrimu?” tanyaku sambil lalu.

”TTM. Kami baru dekat akhir-akhir ini. Dia lumayan cerdas. Kau pasti suka kalau bertemu dengannya,” ujarnya dengan pijar yang tak lepas dari matanya.

Aku benar-benar tak mengenalinya. Ia menggunakan bahasa yang tak kukenali. Ia menyebut judul lagu populer di Indonesia untuk mendefinisikan relasinya dengan perempuan itu.

”Nera ikut aku ke sini. Pingin lihat Hong Kong. Temen-teman juga bawa keluarganya kok. Eit, tapi jangan ditulis ya. Nanti orang berpikir kami hanya menghamburkan uang negara,” jelasnya memberitahuku tentang istrinya.

Tanpa ia beri tahu pun, aku tahu jumlah orang yang masuk dalam rombongan tersebut. Orang-orang yang sama sekali tak ada kaitan dengan kunjungan kerja, ada suami, istri, anak, adik, kakak, tante, budhe, juga keponakan. Aku juga tahu bahwa mereka tak cuma datang ke Hong Kong, tapi juga mampir ke Makau dan Shenzhen untuk melengkapi titipan belanja dari sanak saudara, kerabat, maupun kawan dekat.

”Besok, kami akan ke Victoria Park. Mengunjungi TKW kita. Kami prihatin dengan nasib mereka,” ungkapnya.

Bahasa yang ia pakai betul-betul tak kukenali. Ia menggunakan istilah yang bertahun lalu digunakan oleh politisi yang ia kecam. Ia memperlakukanku seperti massa yang mendengar pidatonya di masa kampanye.

Saat ia tiba di Victoria Park, pidatonya menggelegar di udara. Ia tuding pejabat di kantor perwakilan tak becus melindungi warganya. Ia juga menyalahkan agenda yang disusun perwakilan tak membuatnya bisa bertemu dengan para TKW dengan lebih leluasa. Ia mengkritik semua pihak karena selama ini hanya laporan baik yang masuk padanya.

Rombongan TKW yang berniat memprotesnya pun mendadak terkesima. Ia pun kembali dipuja. Puluhan dari mereka berebut foto dengannya, puluhan lainnya meminta tanda tangannya.

”Ia pernah dipenjara. Ia pasti tahu apa arti menderita,” ucap seorang TKW kepada kawannya, sambil diam-diam melipat poster kecaman yang awalnya hendak ditujukan padanya.

Di pojok, seorang pejabat perwakilan terduduk lunglai. Mengumpat pelan kepada seorang wartawan. ”Mereka sendiri yang minta waktu tamasya, kenapa sekarang jadi kita yang disalahkan karena agenda dengan TKW hanya terbatas,” ucapnya.

Aku menjauh dari kerumunan. Berharap ia segera turun dari atas panggung tersebut dan bisa minum kopi berlama-lama, bicara dengan bahasa yang kami pahami seperti saat lampu panggung belum menyilaukannya.***

Hong Kong, Maret 2007.

Cerpen ini pernah dimuat di harian Sinar Harapan, 16 Februari 2008, dan dimuat ulang di http://fransiscariasusanti.blogspot.com.