Coen Husain Pontoh
ASAL-USUL konsepsi masyarakat sipil bisa ditelusuri hingga ke zaman Yunani Kuno, atau ke masa dimana Hegel, filsuf idealis terbesar, merumuskan gagasannya tentang masyarakat sipil sebagai penyangga sekaligus jembatan penghubung antara rakyat dengan negara (yang merupakan penjelmaan roh absolut). Tapi, dalam kaitannya dengan globalisasi, barangkali yang paling jelas adalah pasca keruntuhan rejim-rejim Stalinis di Eropa Timur dan Tengah dan bangkitnya rejim demokrasi liberal di negara-negara yang sebelumnya diperintah oleh kediktatoran militer.
Semut Terjepit Dua Gajah
LIPUTAN KHUSUS
Budi Setiyono
Wartawan di Jakarta. Mengelola lembaga nirlaba Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah (Mesiass) di Semarang dan Pantau di Jakarta.
RUMAH ini asri. Pepohonan rindang memenuhi pekarangan rumah. Dari pintu masuk, aroma wangi yang khas tercium. Sebuah apotik menghadap pintu masuk, menawarkan beragam jenis obat tradisional berbentuk cair hingga kapsul. Di sisi kanan, di sebuah lahan yang lapang, sejumlah tanaman obat berjejer rapi.
Rumah ini tak pernah sepi. Ada aktivitas meditasi dengan mengandalkan kekuatan alam. Sesekali rombongan tamu datang, sekadar melihat-lihat, membeli obat, atau mempelajari pengobatan tradisional. Sebuah papan pengumuman di dinding rumah menjadi petanda: sejumlah lembaga pernah bertandang ke sini.
Budi Setiyono
Wartawan di Jakarta. Mengelola lembaga nirlaba Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah (Mesiass) di Semarang dan Pantau di Jakarta.
RUMAH ini asri. Pepohonan rindang memenuhi pekarangan rumah. Dari pintu masuk, aroma wangi yang khas tercium. Sebuah apotik menghadap pintu masuk, menawarkan beragam jenis obat tradisional berbentuk cair hingga kapsul. Di sisi kanan, di sebuah lahan yang lapang, sejumlah tanaman obat berjejer rapi.
Rumah ini tak pernah sepi. Ada aktivitas meditasi dengan mengandalkan kekuatan alam. Sesekali rombongan tamu datang, sekadar melihat-lihat, membeli obat, atau mempelajari pengobatan tradisional. Sebuah papan pengumuman di dinding rumah menjadi petanda: sejumlah lembaga pernah bertandang ke sini.
Wiji Thukul dan Puisinya
Dian Purba
TIDAK ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang "hanya" penulis roman menjadi "musuh" bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja. Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram.
TIDAK ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang "hanya" penulis roman menjadi "musuh" bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja. Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram.
Langganan:
Postingan (Atom)
