Resensi Buku

Kisah 16 Perempuan Pejuang Gerilya
Harsutejo

Judul Buku: Hidup Bagaikan Mengalirnya Sungai, Wanita Dalam perjuangan anti-kolonial Malaya.
Penulis : Agnes Khoo, Sejarah Lisan, 2008.,
Penerbit : Hasta Mitra, 2008
penerjemah/editor: Oey Hay Djoen
Tebal : 378 halaman.

BUKU ini diluncurkan pada pertengahan Maret 2008 dalam pertemuan Bulan Purnama di kediaman Ibu Dolorosa, Pondokgede, Jakarta. Setahu saya, ini satu-satunya buku dalam bahasa Indonesia yang mengisahkan perang gerilya yang dilakukan oleh PKM (Partai Komunis Malaya) melawan tentara pendudukan Jepang, pemerintah kolonial Inggris, kemudian Malaysia. Perang itu baru berakhir pada 2 Desember 1989 ketika ditandatangani persetujuan perdamaian oleh Chin Peng dan Abdullah CD atas nama PKM dengan pemerintah Malaysia dan Thailand.

Setelah berperang dan bergerilya di hutan belantara Malaysia-Thailand dengan segala duka derita selama hampir setengah abad, di antara 16 perempuan yang kisahnya direkam dalam buku ini, tidak seorang pun yang menyesali pilihan mereka. Mereka tetap hormat kepada PKM, kepada mereka yang telah berkorban nyawa. Mereka pun tidak menunjukkan kebanggaan berlebihan, sekalipun penuh harga diri, memandang langkah yang telah mereka ambil sebagai sesuatu yang wajar dan biasa saja pada masa itu, memandang hidup mereka cukup bermakna sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan Malaysia dan Singapura. Sebagai dikatakan seorang pelaku, “Tanpa senapan dan meriam, musuh tidak akan memberikan kemerdekaan kepada kita selama-lamanya.”

Chen Xiu Zhu yang lahir pada 1937 menceritakan dengan rinci tentang berbagai pertempuran dan gempuran udara yang pernah dialami pasukannya yang terdiri dari 30 orang. Dikatakan olehnya mereka dapat tidur nyenyak meski musuh melakukan pemboman sehari suntuk. Kelaparan sebagai sesuatu yang akrab bagi mereka. Dengan pengalaman itu mereka melakukan langkah melakukan penyimpanan bahan pangan dengan amat cermat dan hemat di banyak tempat untuk jangka panjang, sampai-sampai dikatakan cukup untuk mendukubng gerilya selama 10 tahun. Ketika mereka keluar dari hutan pada 1989, bahan pangan itu masih ada. Hal itu mereka lakukan berdasar pengalaman panjang bahwa kelaparan sangat menyengsarakan dan menghambat kegiatan.

Selama bergerak di hutan-hutan, di samping memanfaatkan sayuran dan buah-buahan liar, mereka mendaptkan pasokan protein dari menangkap ikan di sungai, kura-kura, kera, babi hutan, bahkan gajah. “Gajah begitu besar. Kami perlu memotong dagingnya menjadi kepingan kecil, mencuci bersih lalu memanggangnya. Kami kerja dua hingga tiga hari terus-menerus siang malam. Saya nyaris pingsan karena tidak sempat tidur!”

Pada suatu kali, sebagai penyimpangan [yang berkali-kali terjadi] dari aturan ketat larangan untuk hamil selama bergerilya di hutan, seorang istri toh melahirkan ketika dalam kepungan musuh. Sedang persalinan harus dilakukan dengan operasi. Ketika operasi belum selesai, mereka harus segera lari dari kepungan, memasuki terowongan bawahtanah yang telah dipersiapkan. Operasi sesar dapat diteruskan....... Keesokan harinya musuh mendekati markas mereka, maka sang bayi bersama ibunya harus diungsikan. Si ibu yang baru melahirkan itu harus naik turun bukit, akhirnya digotong menghindari musuh..... Di samping itu tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa suatu hari mereka akan keluar hutan.

Sebagian besar dari 16 pejuang tersebut yang semula warga negara Malaya dan Singapura kini tinggal di beberapa Desa Perdamaian di Thailand Selatan sebagai petani yang diprakarsai oleh keluarga kerajaan, tanpa kewarganegaraan. Dalam hubungan ini dalam menceritakan kehidupan mereka dewasa ini yang cukup sandang pangan, seorang pelaku menyatakan, “”Selain itu, partai juga memberi bantuan sebanyak 540 Baht sebulan kepada kawan tua yang berumur 60 tahun ke atas...” Tidak ada penjelasan apa pun makna kalimat ini. Apakah yang disebut “partai” itu PKM? Adakah PKM masih eksis? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Saya berharap terbitan ini diikuti oleh terbitan lainnya, misalnya memoar yang ditulis Sekjen PKM, Chin Peng sebagai yang pernah diberitakan.

Kepada sejumlah orang yang menamakan dirinya radikal revolusioner, yang meneriakkan revolusi sekarang juga, patut merenungkan, adakah mereka siap mengalami segala kemungkinan kesulitan hidup, bahkan mempertaruhkan nyawanya setiap saat seperti 16 perempuan bekas anggota gerilya perempuan PKM tersebut? Adakah mereka siap bergerak di hutan belantara sebagai yang telah dan sedang dilakukan oleh New People’s Army (NPA) di Filipina selama lebih dari setengah abad sampai saat ini, dan tidak ada tanda-tanda keberhasilan mereka?

Salah satu kekurangan penerjemahan buku ini seperti telah disinggung pembahas ketika peluncuran ialah penggunaan kata “wanita” dan bukan “perempuan” yang lebih mencerminkan kejuangan. Sedang “wanita” selama tiga dekade berkonotasi dengan “dharma wanita model Orba”. Juga penyuntingannya tidak mulus, kadang mengganggu, karena a.l. dirangkap penerjemahnya sendiri.

Buku ini sungguh bagus sebagai bahan renungan bagi siapa saja yang menghendaki perubahan fundamental tatanan masyarakat kita dewasa ini.***

Bekasi, 14 April 2008.