Mengenang Ong Hok Ham
Wilson
CIPINANG Muara pada awal tahun 1999. Lelaki tua berkepala plontos dan berkacamata itu, setiap hari selalu lewat di depan kantor saya. Ong Hok Ham namanya. Hari itu, kembali saya menyapanya, dan seperti yang sudah-sudah, ia tampak terkejut melihat orang yang memanggilnya. Ia tak ingat siapa yang menyapanya. Saya lalu memperkenalkan diri sebagai salah seorang muridnya di jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
"Ini kantor apa?" ia balik bertanya sambil melap keringat yang bercucuran di wajahnya.
"Ini kantor Partai Rakyat Demokratik atau PRD pak Ong," ujar saya, sambil menunjuk plang PRD yang terpasang di depan pintu gerbang.
Desentralisasi, Investasi Publik dan Dinamika Politik (2-Habis)
Belajar dari Kasus Bolivia
Nur Iman Subono
Dinamika Politik
Secara makro, sebagaimana ditujukan dengan data-data di atas, desentralisasi di Bolivia telah memberikan banyak keuntungan ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di daerah, dan lebih khususnya di daerah-daerah kotamadya (municipalies) yang miskin. Ini terlihat dengan alokasi dana yang lebih besar, dan otoritas pengelolaan serta penggunaannya.
Nur Iman Subono
Dinamika Politik
Secara makro, sebagaimana ditujukan dengan data-data di atas, desentralisasi di Bolivia telah memberikan banyak keuntungan ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di daerah, dan lebih khususnya di daerah-daerah kotamadya (municipalies) yang miskin. Ini terlihat dengan alokasi dana yang lebih besar, dan otoritas pengelolaan serta penggunaannya.
Desentralisasi, Investasi Publik dan Dinamika Politik (1)
Belajar dari Kasus Bolivia
Nur Iman Subono
Nur Iman Subono
Bolivia is the poorest, most backward country in South America. It has dozens of spoken languages, a ruinous geography, and almost no infrastructure. If we can make decentralization work here, it can work anywhere.DIBANDINGKAN dengan negara-negara Amerika Latin lainnya (tepatnya wilayah Amerika Selatan), seperti Brazil, Argentina, Venezuela, dan Chili, misalnya, Bolivia hampir-hampir tidak dikenal atau terlewatkan begitu saja dalam banyak kajian akademis maupun media massa, khususnya di Indonesia.
(Armando Godinez, antropolog dan peneliti sosial)
Langganan:
Postingan (Atom)