22.3.07

Memuja “Widjojonomics”: Memuja Kesalahan

Martin Manurung*

Banyak orang menganggap bahwa pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa Orde Baru (Orba) disebabkan oleh pemikiran dan prestasi para ekonom yang digelari Mafia Berkeley. Mereka adalah lulusan berbagai universitas di Amerika Serikat (AS), kebanyakan jebolan University of California at Berkeley, dan dipimpin oleh Widjojo Nitisastro. Para ekonom itu dipanggil oleh Jenderal Soeharto untuk membanting stir perekonomian Indonesia menuju kapitalisme.

Memang, selama dua dekade (1980-an dan 1990-an) pertumbuhan ekonomi mencapai rata-rata 8 persen per-tahun. Orang berdecak kagum dan Bank Dunia menggelari kita ‘one of the Asian miracles.’ Sukses itu membuat banyak orang menyebut paradigma kebijakan ekonomi Indonesia di awal Orba sebagai “Widjojonomics.”

Anggapan umum itu, tampaknya, masih berlaku. Buktinya, pada peluncuran buku tentang Widjojo, 13 Maret 2007, dipenuhi puja-puji terhadap mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) itu yang dihubungkan dengan ‘prestasi’ ekonomi Indonesia di masa lalu.

Benarkah tinginya pertumbuhan ekonomi Indonesia kala itu karena Widjojonomics? Atau, yang lebih mendasar, apakah memang ada Widjojonomics itu?

Saya meragukannya. Paling tidak, ada tiga sebab Widjojonomics itu sebenarnya biasa-biasa saja dan tidak distinct (memiliki perbedaan mendasar dengan kebijakan kapitalistis lainnya) sehingga harus diberikan nama khusus.

Pertama, kebijakan ekonomi dan strategi pembangunan Orba sejatinya sama dengan perekonomian lainnya di Asia Timur pada saat itu, seperti Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan. Pada negara-negara itu terdapat karakteristik yang sama, yaitu, antara lain, sentralnya peranan berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pembiayaan defisit anggaran dengan utang luar negeri, liberalisasi perbankan dan arus modal, liberalisasi impor, dan besarnya peran para konglomerat dalam sektor industri.

Karena itu, banyak yang menggolongkan negara-negara itu sebagai ‘developmental state’. Saya lebih menyukai istilah ‘state-led capitalist development’, karena lebih spesifik menjelaskan besarnya peran kepemimpinan negara dalam sistem pembangunan kapitalistik. Dengan demikian, sesungguhnya Widjojonomics bukan suatu ‘genre’ yang berbeda.

Kedua, sistem politik negara-negara itu juga sama, yaitu otoritarianisme (Soeharto di Indonesia, Mahathir di Malaysia, Lee Kuan Yew di Singapura, dan Chun Do-hwan di Korea Selatan). Otoritarianisme itu menopang kebijakan pembangunan kapitalistik sehingga akumulasi modal dapat berlangsung tanpa hambatan, gangguan dan protes yang berarti dari masyarakat. Sekadar catatan, tanpa otoritarianisme saya yakin cerita “sukses” di atas belum tentu terjadi.

Ketiga, pada 1980-an Indonesia menikmati ‘hujan’ keuntungan yang berlimpah akibat melonjaknya harga minyak (oil boom). Hal itu turut menyumbang pembiayaan industrialisasi yang mendorong tingginya pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, sesungguhnya, pesatnya pertumbuhan lebih disebabkan oleh faktor eksternal (oil boom) ketimbang faktor internal kebijakan domestik (Widjojonomics). Hal itu terbukti dengan, menurunnya pertumbuhan ekonomi segera setelah oil boom usai yang kemudian membuka pintu krisis ekonomi 1997.

Berbagai kesamaan di atas kemudian menyebabkan negara-negara Asia Timur diterpa krisis secara bersamaan. Utang luar negeri yang menggunung menyebabkan tingginya ketergantungan pada faktor luar negeri. Meraksasanya konglomerasi dan liberalisasi perbankan menyebabkan tingginya kredit macet, serta sistem politik otoriter yang berujung pada perkoncoan (crony capitalism).

Orang bijak berkata bahwa kita harus belajar dari kesalahan agar bisa berubah. Namun, sayangnya, kita terbiasa lupa belajar. Bahkan, lebih fatal lagi, kita justru memuja kesalahan itu.


*Alumni FEUI dan School of Development Studies, University of East Anglia, Inggris

3 komentar:

Ikra said...

Martin Manurung ini sikapnya tidak jelas. Saya kira dia akan membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang nyata ada di zaman Soeharto berkuasa itu omong kosong. Tapi nyatanya dia tidak membantah adanya pertumbuhan ekonomi itu, bukan? Apa pun alasan sampai terjadinya pertumbuhan ekonomi pada masa itu, pertumbuhan ekonomi itu memang benar-benar terjadi.

Masalahnya bagi saya bukan ada atau tidaknya pertumbuhan ekonomi. Tapi, apakah akibat adanya pertumbuhan ekonomi itu kita berhasil mencapai kesejahteraan sosial atau tidak!

Yang jelas, pada masa "jaya"-nya Soeharto itu yang diuntungkan adalah para penanam modal asing (Multinational Corporations) dan lahirnya segelintir konglomerat dalam negeri yang tokoh utamanya adalah Om Liem dan keluarga Soeharto dan militer bawahannya.

Mereka yang jumlahnya segelintir itulah pemegang aset kekayaan negara kita. Yang lain hanyalah menadahkan tangan menunggu tetesan kemurahan hati mereka. Jadi, "klas menengah" yang diperkirakan ada ini, ternyata hanyalah sekedar busa saja yang bisa dihempaskan gelombang setiap waktu.

Di luar itu semua, jumlahnya diperkirakan mendekati 40% adalah hidupnya tergolong tidak kaya, atau tergolong miskin, bahkan banyak yang berada di bawah garis kemiskinan.

Ketika terjadi gelombang besar krismon melanda negeri kita, lalu muncul reformasi, maka sebagian besar dari kekayaan yang ada di tangan segelintir orang itu minggat ke luar negeri, antara lain hinggap di Singapura, Hongkong, Canada dan Amerika. Mereka yang tergolong "klas menengah ambruk, karena memang hanya busa kosong yang ada di tangan mereka, bukan aset kekayaan, akibatnya jumlah yang tergolong tidak kaya, miskin dan di bawah garis kemiskinan pun bertambah.

Tidak perlu seorang ahli ekonomi untuk memahami bahwa Kapitalisme yang dipakai oleh Soeharto (dan tentu saja Widjojo) adalah mampu melahirkan pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak bisa melahirkan Kesejahteraan Sosial lewat sistem trickle down effect-nya itu. Sistem itu hanya menguntungkan MNCs dan konglomerat nasional, baik ada KKN maupun tidak ada, baik ada demokrasi maupun otoriterianisme.

Yang kita butuhkan adalah sistem yang bisa memberikan pertumbuhan ekonomi tapi juga sekali gus bisa memberikan Kesejahteraan Social bagi SELURUH warganya. Dengan kata lain, sistem itu adalah bukan Kapitalisme dan bukan Marxisme/Komunisme, melainkan demokrasi: demokrasi ekonomi, demokrasi politik, demokrasi budaya, dst. Salah satu elemen penting demokrasi adalah partisipasi seluruh rakyat dalam menjalankan kebijakan semua sektor itu. Ini artinya dari bawah ke atas, dan bukan dari atas ke bawah.

Sistem Kapitalisme dan Marxisme itu strukturnya top-down (dari atas ke bawah) sehingga menutup partisipasi. Bung Karno dengan Marhaenismenya ketika berkuasa juga menutup partisipasi itu dengan Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin, akibatnya yang berkuasa bukan rakyat (yang di bawah) melainkan tetap saja yang berkuasa adalah pemimpin (yang di atas) juga.

Kita perlu merambah sistem ekonomi yang baru sama sekali, sehingga strukturnya sejalan dengan demokrasi, yang dari bawah ke atas itu.

Ikra.-
=====

Martin Manurung said...

Bung Ikra,

Saya sependapat dengan Anda soal pertumbuhan ekonomi di jaman Orba yang tidak menghasilkan kesejahteraan sosial. Tidak ada persoalan dengan itu.

Dalam tulisan saya, topik utamanya tidak sedang membahas tentang hal itu, melainkan sedang mempersoalkan 'klaim' bahwa Widjojonomics 'berperan' besar menghasilkan pertumbuhan. Padahal, pertumbuhan di kala itu lebih banyak disumbang oleh faktor eksternal dan otoritarianisme yang 'mengamankan' akumulasi kapital.

Anonymous said...

Inilah genius nya Soeharto. Orang pikir wijoyo yg pny andil. Padahal ini semua adalah Soehartonomic. Memang yg punya Freeport Indonesia itu siapa? Rio Tinto? Beyond Petrolium? Newmont? Bogasari? Indofood? First Pacific? .. Widjoyo punya apa?

Soehartonomic adalah kapitalisme yg mementingkan perusahaan Cendana dan konco2nya. Ngak ada mikir dia soal kesejahteraan rakyat. Sampai dengan 1997, Soeharto lah yg terkuat di Asia. Sampai tim ekonomi disini sadar dan mengkudeta dgn bekerja sama dgn IMF.

Kudeta diawali dgn penutupan 16 bank dan kemudian rupiah dibuat smp dgn 17.000 per dollar dgn cara BLBI dibobol. Kerusuhan diciptakan melalui beberapa kelompok tentara... akhirnya semua kita ketahui akhirnya.. tp ini bukan akhir, baru awal... terbit buku patriot or crook di singapura.... bukti bahwa aset dan uang Genk Soeharto di Singapura buanyak.... dia tarik itu uang, singapura guncang....

Jadi: ngak ada itu widjoyonomic.... mrk hanya orang2 yg kecele oleh kepintaran Soeharto.... Sekarang genk Soeharto mulai bangkit.... kita mau apa? Ngak bisa apa2. Cuma nganalisa, itu juga salah melulu....