In Memorium A.S. Dharta (1924-2007)

Budi Setiyono

SEPI sudah. Tak ada diskusi-diskusi, tak ada canda. Tak ada panutan. Selepas pemakaman A.S. Dharta atau Klara Akustia, anak dan cucu-cucunya terdiam di kamar kecil di sebelah kamarnya. Masih ada tangis tersisa. Tapi dia tak mungkin kembali.

A.S. Dharta meninggalkan kita pada 7 Februari 2006, sekitar pukul 05.30 di rumahnya di Cibeber, Cianjur, setelah dua minggu terbaring sakit. Dia terkena penyakit paru-paru, yang menyebabkan jantungnya membengkak. Sempat seminggu menjalani perawatan di Rumah Sakit UKI Jakarta tapi akhirnya dibawa pulang karena desakannya. Dia dimakamkan di pemakaman keluarga, tak jauh dari rumahnya.

Saya menengok kamar A.S. Dharta. Gelap. Pengap. Lemari penuh buku. Koran-koran bertumpukan. Saya memasuki kamar itu, mencoba meraup semua yang pernah dirasakannya. Ada foto masa kecil cucu-cucunya. Ada coretan kapur di lemari dan tembok. Di pintu keluarnya, sebuah kertas kecil, tertulis dengan spidol biru, tertempel di lemari: "Awas! Bahaya kedangkalan logika berpikir."

Keluasan berpikir adalah ucapan yang selalu dilontarkan A.S. Dharta setiap kali berdiskusi dengan saya. Kehendaknya untuk melepaskan diri dari pengotak-kotakkan, menjauhkan diri dari bisik-bisik dan omongan palsu, kepercayaan akan perubahan, dan kemauan menjawab persoalan-persoalan masyarakat. Sikapnya ini tercermin dalam tindakan dan karya-karyanya.

Karya-karyanya tercecer di sejumlah media, dalam maupun luar negeri. Bentuknya puisi, essai, kritik sastra, catatan perjalanan. Naskah dramanya "Saidjah dan Adinda," adaptasi dari novel karya Multatuli yang diterjemahkan Bakri Siregar, pernah pula dipentaskan. Dia juga berkolaborasi dengan Amir Pasaribu, yang tahun lalu menerima penghargaan Akademi Jakarta untuk bidang musik, menghasilkan antara lain lagu "Irama Mei." Pada 1957, terbit kumpulan puisi Klara Akustia. Judulnya "Rangsang Detik," kumpulan sajak periode 1949-1957, yang diterbitkan Jajasan Pembaroean. Selebihnya masuk dalam antologi puisi bersama penyair-penyair lainnya.

Keindahan sajak-sajaknya terutama terletak pada pemikirannya (beauty of thought) dan keindahan relasinya dengan rakyat, dengan manusia. Keindahannya berpadu dengan keindahan emosi dan intuisi, bersumber pada rasionalitas; bersenyawa dengan derita manusia-manusia yang tertindas.

“Masyarakat tak lagi menginginkan seniman-senimannya menjadi penghibur, tetapi wakil-wakil daripada kehidupan kejiwaan dan alam cita-cita, seorang “ahli nujum”yang mampu menjawab masalah-masalahnya yang paling sulit: seorang dokter yang menemukan dalam dirinya lebih dahulu nyeri-nyeri dan penderitaan manusia umumnya, dan mengobatinya dengan menciptakannya kembali dalam bentuk puitis”. (V.G. Belinsky, “selected philosophical works.”)

Soal “menjawab masalah-masalah manusia” ini adalah salah satu pertanggungjawaban pengarang realisme-sosialis, satu sikap kepengarangan yang sudah dilontarkan dalam esai-esainya sejak tahun 1950-an, dan kemudian berujung pada pembentukan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Klara Akustia adalah salah seorang di antara sedikit pengarang Lekra yang mampu memenuhinya.

Klara memiliki kemampuan untuk membaui dan memetik tema-tema aktuil dan menarik dari antara arus kehidupan dan mengolahnya dengan orisinalitet yang patut dicatat. “DPR Baru”, ”Aku Pelaksana”, dan “Konsepsi Bung Karno”. Klara juga membawa kita bertualang ke Senen, ke daerah Nyi Marsih yang ingin merdeka, ke Peking dan Praha pujaan kepada kerja, ke Capitol dan ke pabrik Coca-Cola, tetapi ia akhirnya berlabuh di pantai hati manusia yang hangat juga! “Antara Bumi dan Langit” adalah sebuah sajaknya, yang menugaskan dirinya menjadi pemenang dalam polemik dua pandangan. Sajak ini ditujukannya untuk HB Jassin: Kita berdua sama-sama tidak bebas/ kau terikat pada dirimu/ aku pada Manusia dan zaman kini.

NAMA sebenarnya Adi Sidharta tapi biasa disingkat A.S. Dharta. Nama aliasnya bejibun. Yang sering dipakai adalah Klara Akustia. Lainnya: Kelama Asmara, Jogaswara, Rodji, Barmara Poetra, dan masih banyak lagi. Lahir di Cibeber, Cianjur, 7 Maret 1924, jiwanya bergejolak sejak menjadi anak angkat Okayaman, salah seorang tokoh pergerakan yang dibuang ke Boven Digul. Dan makin dimatangkan di sekolah Nationaal Handele Lallegiun (NHL) di bawah didikan Douwes Dekker. Di masa revolusi, dia bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31, keluar-masuk hutan, bergerak dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran lain. Di Menteng 31 inilah dia mulai mengenal Soekarno, sejumlah tokoh politik, dan juga seniman-seniman.

Dia pernah menjadi wartawan Harian Boeroeh di Yogya, dia memimpin serikat buruh: Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, Serikat Buruh Pelabuhan, termasuk di lembaga induknya, Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Lalu dimatangkan lewat International Union of Students (IUS), World Federation of Democratic Youth, dan World Federation of Trade Unions, yang membuatnya berkeliling ke sejumlah negara bekas-bekas kolonialisme.

“Dalam kerja itu kita melakukan genesis, melahirkan kita kembali, lieber create man,” ujarnya.

Tapi A.S. Dharta lebih dikenal sebagai sastrawan. Dia mulai menjadi penyair menjelang proklamasi kemerdekaan. Puisi pertamanya dimuat di suratkabar Tjahaja, Bandung. Sejumlah puisi kemudian lahir dari tangannya. Lalu cerita pendek, seperti “Hidup Kembali” dan “Pahlawan Sunyi” yang dimuat di majalah Gelombang Zaman, September dan Oktober 1946. Sejumlah puisinya pada tahun itu juga pernah dimuat di majalah Arena, Gelombang Zaman, dan Revolusioner. Dia juga ikut mendirikan PEN Club-Indonesia dan memimpin Sastrawan Angkatan Baru.

Peristiwa Madiun 1948 menjadi tonggak bagi A.S. Dharta untuk mengingatkan peran sastrawan dalam revolusi. Dia menulis sebuah esai yang mengemparkan dunia kesusastraan Indonesia: “Angkatan 45 Sudah Mampus” di majalah Spektra, 27 Oktober 1949. “Di Madiunlah dikuburnya Angkatan 45” begitulah A.S. Dharta menulis, “Dan matilah ia, pemikul Hari Esok.”

Tulisan ini begitu kerasnya. Tegas. Tapi argumentasinya jelas. Beberapa sastrawan ikut-serta mempersoalkan Angkatan 45, antara lain Sugiarti, Sitor Situmorang, Mochtar Lubis, Anas Maruf, Achdiat Karta Mihardja, M.S. Azhar, Asrul Sani, dan lain-lain.

Esai itu hanya lecutan pertama A.S. Dharta, untuk menggerakkan konsep yang lebih luas: di mana posisi sastrawan atau seniman di dalam perubahan masyarakat. Di sini pula dia memunculkan perlunya generasi pemikul hari esok. Secara lebih jelas dan kongkret, dia jabarkan dalam tulisannya, “Sekitar Angkatan 45”, yang merupakan tanggapannya atas tulisan Mochtar Lubis “Hidup, Mati?” di majalah Siasat, 4 Desember 1949. “Ya, dan kita akan terus/ dari agitasi ke organisasi / dari elan keinginan / ke energi pelaksanaan!”

Dari agitasi ke organisasi. Jelas sudah. Dan akhirnya, pada 17 Agustus 1950, A.S. Dharta mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang kelak secara salah kaprah selalu dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia, bersama M.S. Azhar dan Njoto. Dia pula yang ditunjuk sebagai sekretaris jenderal (Sekjen). Sementara sikap berkesenian Lekra dituangkan dalam Mukadimmah. Disebutkan antara lain, ”Lekra bekerja khusus di lapangan kebudayaan, terutama di lapangan kesenian dan ilmu. Lekra membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masyarakat.”

Sebagai Sekjen, dia aktif menjelaskan realisme sosialis, juga berpolemik dengan sastrawan lain. Termasuk dengan kritikus sastra HB Jassin. “Seorang sastrawan tidak mungkin dan tidak bisa berdiri ‘netral’, terlepas dari pengaruh lingkungannya,” tulisnya dalam esai “Kepada Seniman Universal”. Tulisan itu merupakan tanggapannya atas tulisan HB Jassin di bulanan Zenith, edisi kebudayaan mingguan Mimbar Indonesia, 15 Maret 1951, tentang adanya dan hak hidupnya apa yang disebut Angkatan 45.

Dalam esai itu A.S. Dharta menjelaskan perbedaan sikapnya soal isi dan bentuk (dalam istilah Jassin visi dan gaya), juga ketidaksetujuannya dengan konsep humanisme universal (yang bagi A.S. Dharta adalah baju baru untuk l’art pour l’art).

Jassin memajukan ucapan Asrul Sani untuk menjawab konsep itu: “Derita dunia adalah derita kita, karena kita adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia.” Tapi Jassin sendiri mengakui: “Satu keberatan bisa dikemukakan terhadap keuniversalan ini. Sangat banyak kemungkinan-kemungkinan, tapi toh orang harus memilih dalam praktiknya dan apabila telah memilih boleh bertengkar lagi.”

Sementara A.S. Dharta menjawab: “Di dalam praktik kita melihat, bahwa “seni universal” dipergunakan untuk lebih menjauhkan, untuk lebih mengasingkan, seniman dan seni dari masyarakat. … Dengan ini menjadi jelas, bahwa kesusastraan universal tidak netral, tidak berdiri di atas segala. Di dalam praktik dia menjadi sekutu kelas yang antiperubahan masyarakat ke arah perbaikan.”

Lebih jelas lagi, sikap A.S. Dharta ditunjukkan dalam esai “Dari Idealisme ke Realisme” yang dimuat di Harian Rakjat, 13 November 1951. Di sini A.S. Dharta menggambarkan perjalanan kesusastraan Indonesia sejak Pujanggan Baru hingga pecahnya Angkatan 45 menjadi dua kutub sejak persetujuan KMB – meski pernah diikat dan sependirian bahwa revolusi tidak mencapai tujuannya. Pertama, kesusasteraan idealisme yang meneruskan kebangkrutannya dengan etiket “humanisme universal”. Kedua, kesusasteraan realisme-kreatif yang baru menyusun diri dengan konsep perjuangannya kesusasteraan untuk rakyat-banyak.

“Bagaimanapun juga, perkembangan kesusasteraan adalah sejalan dengan perkembangan perjuangan bangsa. Dan bagi kita sebagai bangsa tidak ada alasan untuk pesimistis. Apalagi sebagai sastrawan! Jelas terbentang kebangkrutan dari idealisme dan kebangkitan realisme-sosialis, “ tulisnya.

Dalam preadvisnya di Kongres Kebudayaan Indonesia II di Bandung pada 1951, A.S. Dharta menulis: "Kesusastraan wajib menginjakkan kakiknya di atas dunia yang nyata dan memancangkan mata ke hari esok, bukan dengan romantik kuno tapi dengan romantik yang hidup dan maju."

Realisme sosialis atau realisme aktif menjadi pegangan A.S. Dharta dalam berkarya. Ia juga dipegang, tapi tidak dipaksakan, oleh sastrawan dan seniman Lekra.

Sebagai gerakan kebudayaan, Lekra sendiri perlahan tumbuh dan besar. Dalam empat tahun saja, Lekra bisa begitu mapan, bisa berkembang. Karena tak pakai sistem keanggotaan, tak jelas berapa jumlah anggota Lekra. “Lekra adalah fenomena unik dalam sejarah dunia. Menurut saya, berdasarkan penelitian saya, cukup jelas bahwa Lekra berkembang karena cara membangunnya sangat organik dan sesuai kondisi lokal,” ujar Stephen Miller, yang sedang riset tentang Lekra untuk tesis doktoral di Australian National University.

”Itu bukti bahwa zaman membutuhkan. Bukti bahwa kita punya understanding terus-menerus. Organisasinya terus-menerus dimodernkan, diefisienkan, supaya yang di bawah pegang kendali,” ujarnya kepada saya. Klara Akustia juga redaktur Zaman Baru, penerbitan resmi milik Lekra.

Pada 1957, dalam sebuah kongres Lekra, A.S. Dharta melakukan otokritik. Dia mengatakan telah melakukan ”kemesuman borjuis”. Dia kembali menyadarkan perlunya otokritik. Dia resmi dipecat dari Lekra pada 4 November 1958. Sekjen Lekra kemudian beralih ke tangan Djoebar Ajoeb. Keanggotaannya di Konstituante (dari calon tak berpartai lewat Partai Komunis Indonesia) juga dicabut.

”Saya akan rebut kembali apa yang sudah saya kerjakan selama ini dengan kerja, ” ujarnya.

SELEPAS dari Lekra, A.S. Dharta pulang ke Cianjur. Di sana dia mengajar kursus bahasa Inggris untuk masyarakat sekitar. Dia juga masih menulis. Setelah itu dia membentuk Masyarakat Seni Djakarta Raja (MSDR) pada 1960-an. Pada 1962, bersama Hendra Gunawan, A.S. Dharta mendirikan Universitas Kesenian Rakyat di Bandung. Presiden Soekarno yang meresmikannya. Tapi keinginannya mensarjanakan masyarakat tak terwujud. Iklim politik berhembus ke kanan. Terjadi peristiswa terkelam dalam sejarah Indonesia pada 1965. A.S. Dharta masuk penjara di Kebonwaru, Bandung.

Selepas dari penjara tahun 1978, tak ada yang bisa dilakukannya lagi. Tak boleh melakukan aktivitas apa-apa. Kamus Sunda-Inggris-Indonesia yang sempat dibikinkannya tak sampai selesai. Semua karyanya juga telah dirampas. Selama bertahun-tahun, A.S. Dharta hanya duduk dan membaca, menemui anak-anak muda dan sejawat yang ingin berdiskusi, hingga meninggalnya.

A.S. Dharta bukan saja sastrawan, tapi juga pejuang, pemikir, pendobrak. Melalui karya-karyanya, juga sosoknya, Klara Akustia telah membuka pikiran dan mata hati banyak orang yang mendambakan kebaruan dalam perspektif yang benar. Matanya hanya tertuju pada satu tujuan. Dengan kejeniusannya ia menuntut disatukannya kembali manusia untuk ikut dalam gejolak perubahan dan kemajuan.

Dia selalu mengingatkan mereka untuk bekerja, pantare. ”Kalau tidak bisa, berarti kamu sudah menjadi benalu!” ujarnya pasti. ”Tapi ingat, kamu mau tahu atau tidak mau tahu, ikut atau tidak, hukum pantare itu akan terus berjalan. Sudah pasti terjadi.”

Dalam diskusi-diskusi, dia selalu menekankan pentingnya pelaksanaan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Dia juga mengimpikannya hilangnya kebodohan dalam masyarakat Indonesia.

Oleh banyak teman-temannya, A.S. Dharta dinilai sebagai orang yang tak ada duanya. Dia jenis manusia yang tak bisa diperintah, yang teguh pendiriannya. Pergaulannya luas. Tapi dia juga orang yang tak henti-hentinya mencari generasi-generasi muda terbaik, mengajaknya berdiskusi, menanamkan sikap kerakyatan. Pramoedya Ananta Toer, novelis tetralogi Bumi Manusia, satu di antaranya.

Cita-citanya sendiri ”mensarjanakan rakyat” mungkin belum usai. Tapi masih akan ada tunas-tunas baru, penerusnya, seperti yang dia tuliskan dalam sajaknya: ”Rukmanda”.

Aku kini tiada lagi
bersatu dengan bumi tanah air tercinta
tapi lagu aku tamatkan
bersama bintang seminar kelam
dengan debar jantung terakhir
yang melihat fajar bersinar
kelahiran tunas penyambung keremajaanku.


Selamat jalan, A.S. Dharta.***

Budi Setiyono, redaktur majalah Pantau di Jakarta, dan penulis lepas di sejumlah media. Mengelola lembaga nirlaba Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah (Mesiass) dan Yayasan Pantau. Menyunting buku "Revolusi Belum Selesai" yang berisi kumpulan pidato politik Soekarno, "Jurnalisme Sastrawi, Antologi Liputan Mendalam dan Memikat," serta sejumlah buku lainnya.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di http://budisetiyono.blogspot.com, 9 Februari, 2007.