Jurnalisme dan Perjuangan menuju Sosialisme
Oryza A. Wirawan
BAGI mereka yang percaya bahwa media massa haruslah sejalan dengan nafsu kapitalisme modern, hendaklah menengok Charles Anderson Dana.
Dana memimpin sebuah koran yang didedikasikan untuk perjuangan buruh: The New York Sun. Saat semua media berpihak pada kelas pemodal, Dana menunjukkan bahwa The Sun (yang berarti Surya) menyinari semua tanpa memandang kelas sosial.
Aku Seorang Gerwani
Omie Lubis
Kau lahir dari rahimku yang memar, anak ku
ketika tentara-tentara itu membuka lebar
selangkangan dan harga diriku
mencabik dan menghamburkan cairan birahi
melampiaskan nafas jalang berbau busuk
mematri luka meneteskan darah
Aku hanya seorang wanita, anak ku
yang bermimpi untuk melihat kalian
pagi hari pergi sekolah
petang hari mendengar celoteh impian
yang berdesakkan di dada kecilmu
impian untuk masa depanmu
dan negara mu
Aku seorang Gerwani, anak ku
yang dipaksa menari dengan tubuh bugil
diujung ancaman popor senjata
di bawah sinar matahari setajam mata tuhan
aku dipaksa melukis sejarah
untuk meracuni kalbumu
Aku seorang Gerwani, anakku
dianggap berdosa karena aku berjuang
untuk masa depanmu
mulutku disumbat, kulitku dikuliti
harga diriku terkulai diujung sepatu tentara
kemaluanku direjam dan dinista
rahimku koyak ditangan manusia
Aku seorang Gerwani, anakku
aku telah membayar harga pengorbananku
petiklah kebenaran demi cinta
sentuhlah keadilan demi cinta
raihlah cita-cita tertunda demi cinta
cinta kepada dirimu,
kepada sesamamu
dan negaramu
karena itulah keinginanku sebagai seorang Gerwani
Kau lahir dari rahimku yang memar, anak ku
ketika tentara-tentara itu membuka lebar
selangkangan dan harga diriku
mencabik dan menghamburkan cairan birahi
melampiaskan nafas jalang berbau busuk
mematri luka meneteskan darah
Aku hanya seorang wanita, anak ku
yang bermimpi untuk melihat kalian
pagi hari pergi sekolah
petang hari mendengar celoteh impian
yang berdesakkan di dada kecilmu
impian untuk masa depanmu
dan negara mu
Aku seorang Gerwani, anak ku
yang dipaksa menari dengan tubuh bugil
diujung ancaman popor senjata
di bawah sinar matahari setajam mata tuhan
aku dipaksa melukis sejarah
untuk meracuni kalbumu
Aku seorang Gerwani, anakku
dianggap berdosa karena aku berjuang
untuk masa depanmu
mulutku disumbat, kulitku dikuliti
harga diriku terkulai diujung sepatu tentara
kemaluanku direjam dan dinista
rahimku koyak ditangan manusia
Aku seorang Gerwani, anakku
aku telah membayar harga pengorbananku
petiklah kebenaran demi cinta
sentuhlah keadilan demi cinta
raihlah cita-cita tertunda demi cinta
cinta kepada dirimu,
kepada sesamamu
dan negaramu
karena itulah keinginanku sebagai seorang Gerwani
Obsesi Washington Menundukkan Kuba
Coen Husain Pontoh
PADA acara pelantikan Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat ke-44, banyak orang menunggu pernyataan Obama soal konflik Timur Tengah. Banyak yang kecewa. Pidatonya dianggap terlalu umum, tidak spesifik dan tidak mengandung satu unsur tindakan penyelesiaan konflik yang bisa diterima kedua pihak yang bertikai.
PADA acara pelantikan Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat ke-44, banyak orang menunggu pernyataan Obama soal konflik Timur Tengah. Banyak yang kecewa. Pidatonya dianggap terlalu umum, tidak spesifik dan tidak mengandung satu unsur tindakan penyelesiaan konflik yang bisa diterima kedua pihak yang bertikai.
Cuplikan Sejarah Satu Mei di Indonesia
I Gusti Agung Anom Astika
HARI ini 1 Mei, 2009, kaum buruh di berbagai belahan dunia kembali lancarkan berbagai perlawanannya terhadap kapitalisme. Bukan sekedar peringatan dan perayaan atas kemenangan leluhur pejuang kelas buruh yang berhasil memperjuangkan 8 jam kerja pada tahun 1886 di Haymarket, Chicago, Amerika Serikat. Bukan juga sebatas keberhasilan kelas buruh di Indonesia melakukan mobilisasi yang terus menerus meningkat kuantitas massanya setiap tanggal tersebut diperingati. Tetapi, karena sejarah perjuangan rakyat di Indonesia adalah sejarah perjuangan rakyat pekerja.
Semenjak awal abad ke XX, ketika masih berada di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda, rakyat Indonesia telah dijadikan 'sapi perah' bagi perkebunan dan industri kolonial. Sehingga seorang pemikir Jerman, Friedrich Engels berkata dalam suratnya kepada Karl Kautsky, temannya, bahwa Rakyat di pulau Jawa ditahan dalam kebodohan primitif dan 70 juta Mark (tahun 1884) setiap tahunnya didapat oleh kas kolonial Belanda. Tidak aneh jika organisasi modern yang pertama di Indonesia lahir pada tahun 1905, yaitu Serikat Pekerja Kereta api (SS Bond). Tiga tahun kemudian baru berdiri organisasi politik pertama yaitu Boedi Oetomo, dan tahun 1912 berdiri partai politik pertama yaitu Indische Partij, yang beranggotakan orang-orang demokrat progresif Belanda dan Indonesia. Tetapi, nasib ketiga organisasi ini di bawah politik kolonial juga tidak nyaman-nyaman betul. Ada banyak represi dan ada banyak pembatasan terhadap berbagai aktivitas politik, termasuk terhadap organisasi organisasi yang berdiri sesudahnya, seperti Sarekat Islam, Perkumpulan Sosial Demokratis Hindia, Perserikatan Guru Hindia Belanda, Perserikatan Pegadaian Pribumi, Serikat Buruh Pekerjaan Umum, Serikat Buruh Pabrik Gula, Serikat Buruh Percetakan, Sarekat Postel, Serikat Pegawai Kehutanan, dan Serikat Buruh Kereta Api (VSTP).
Hampir semua organisasi tersebut di muka, berusaha memperjuangkan kehidupan rakyat Indonesia, yang kian lama kian memburuk akibat politik kolonial dan krisis ekonomi pada periode Perang Dunia I. Masa itu adalah masa kelaparan bagi rakyat Hindia Belanda. Tepatnya, pemelaratan mutlak, kesengsaraan yang demikian besar, dan merajalelanya keresahan sosial. Tidak aneh jika pada tahun 1916 terjadi pemberontakan spontan yang besar di Jambi, yang membuat kaum kolonialis kalang kabut dan hanya dapat memadamkannya dengan pengerahan polisi dan tentara kolonial secara besar-besaran. Semuanya ini mendorong rakyat Indonesia untuk meningkatkan perjuangannya, mulai dari tuntutan pengurangan pajak, kenaikan upah, dan tuntutan perbaikan nasib lainnya, hingga tuntutan hak-hak demokratis sebagai bagian dari perjuangan menuntut kemerdekaan. Atas kenyataan ini, pemerintah kolonial berusaha meredam gerakan politik ini dengan membentuk “Dewan Rakyat,” yang anggota-anggotanya ditunjuk dan diangkat oleh pemerintah kolonial, pada tahun 1917. Rakyat Indonesia menolak eksistensi dari Dewan Rakyat ini, karena tidak mewakili rakyat. Kemudian, sejumlah organisasi seperti Sarekat Islam, Budi Utomo, Insulinde, Pasundan dan Perkumpulan Sosial Demokratis Hindia membentuk Konsentrasi Radikal pada tahun 1918.
Sebagai perlawanan lanjutan di lapangan politik, gabungan serikat-serikat buruh tersebut di muka melancarkan aksi mogok total pada tanggal 1 Mei 1918. Itulah, untuk pertama kalinya, hari buruh sedunia diperingati oleh rakyat Hindia Belanda/Indonesia. Dan itulah saat pertama kali hari buruh diperingati di Asia. Selanjutnya, hampir setiap tahun sampai dengan tahun 1926, hari buruh diperingati dengan berbagai macam acara oleh serikat-serikat buruh.
Mulai tahun 1927 sampai periode kemerdekaan, hari buruh sulit untuk diperingati. Baik karena kebijakan kolonial yang merepresi semua organisasi politik, maupun kebijakan pemerintah pendudukan Jepang yang menangkapi semua aktivis gerakan buruh. Baru pada tahun 1946, hari buruh kembali diperingati oleh rakyat Indonesia. Itulah kesempatan pertama kaum buruh dan rakyat Indonesia merayakannya di alam kemerdekaan, yang sepenuhnya didukung dan difasilitasi oleh pemerintah. Di sekolah-sekolah, murid-murid dikumpulkan dan berlatih menyanyi Internasionale. Di Kantor-kantor, perusahaan, dan pabrik diadakan berbagai macam perayaan. Bahkan, di desa-desa, acara peringatan dipimpin oleh Lurah atau orang-orang pergerakan lama yang masih hidup. Seorang pejuang rakyat Indonesia, almarhum Hardoyo, menulis,
Penting diperhatikan, pada tanggal yang sama dan untuk tujuan peringatan yang sama pula, Barisan Boeroeh Wanita yang dipimpin oleh S.K Trimoerti membuka pelatihan dua bulan untuk calon pimpinan buruh perempuan.
Melihat realitas yang demikian ini, tentunya tidak aneh jika 1 Mei di tahun 1948, dua ratus hingga tiga ratus ribu orang buruh, tani dan pemuda membanjiri alun-alun kota Yogyakarta untuk menghadiri rapat akbar. Catatan Pramoedya Ananta Toer menunjukkan, Wakil Presiden dan Jendral Soedirman menghadiri rapat akbar tersebut, sembari melakukan upacara peletakan batu pertama Tugu Pahlawan. Hari buruh pada tahun tersebut dirayakan juga di kota-kota wilayah Republik, yaitu Magelang, Purworejo, Madiun, Kediri, Blitar, Cepu, Bojonegoro, Pati, Kutaraja Banda Aceh, Bukittinggi dan lain-lain tempat. Ini tanggal penting bagi sejarah perjuangan buruh, karena pada 1 Mei 1948, pemerintah Soekarno melalui UU Kerja no.12/1948 telah menetapkan 1 Mei sebagai tanggal resmi Hari Buruh. Lebih tepatnya dalam Pasal 15 ayat 2 UU No. 12 tahun 1948 tersebut berbunyi: "Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja". Artinya, UU tersebut mengakui bahwa 1 Mei sebagai hari kemenangan kaum buruh. Dan selama pemerintahan Soekarno, 1 Mei terus diperingati oleh kaum buruh di Indonesia.
Cuplikan pengalaman sejarah ini menunjukkan, Satu Mei yang hingga sekarang masih harus terus diperjuangkan sebagai hari buruh, bukanlah sesuatu yang asing. Ia adalah bagian dari sejarah perjuangan rakyat Indonesia di dalam mewujudkan kemerdekaan, di dalam mewujudkan pembebasannya dari cengkeraman kolonialisme, dan mengisi kemerdekaan tersebut dengan berbagai macam aktivitas. Rejim Orde Baru di bawah Jendral Soeharto-lah yang menghapus eksistensi dari hari buruh ini, baik secara praktis maupun secara ideologis.
Celakanya, setelah periode reformasi berlangsung sepuluh tahun, mereka yang sekarang duduk di panggung kekuasaan juga tidak cukup sadar tentang arti penting dari kaum buruh. Tambah Celaka lagi, dari sembilan partai pemenang pemilu tidak satu pun yang mengupayakan tanggal 1 Mei, sebagai hari perjuangan rakyat pekerja, sebagai bagian dari hari buruh internasional. Tidak penting lagi soal ada libur atau tidak ada libur nasional bagi peringatan atas tanggal 1 Mei.
ESENSI SATU MEI DI INDONESIA, ADALAH PERJUANGAN BURUH, PERJUANGAN RAKYAT INDONESIA DI DALAM MEWUJUDKAN KEBEBASANNYA YANG PALING MAKSIMAL SEBAGAI SEBUAH BANGSA. Sepanjang 1 Mei tidak pernah dan tidak ada usaha untuk mengakuinya, berarti tak lama lagi rebana dan gendang revolusi bertalu-talu!***
I Gusti Anom Astika, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, peneliti ISSI/JKB.
HARI ini 1 Mei, 2009, kaum buruh di berbagai belahan dunia kembali lancarkan berbagai perlawanannya terhadap kapitalisme. Bukan sekedar peringatan dan perayaan atas kemenangan leluhur pejuang kelas buruh yang berhasil memperjuangkan 8 jam kerja pada tahun 1886 di Haymarket, Chicago, Amerika Serikat. Bukan juga sebatas keberhasilan kelas buruh di Indonesia melakukan mobilisasi yang terus menerus meningkat kuantitas massanya setiap tanggal tersebut diperingati. Tetapi, karena sejarah perjuangan rakyat di Indonesia adalah sejarah perjuangan rakyat pekerja.
Semenjak awal abad ke XX, ketika masih berada di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda, rakyat Indonesia telah dijadikan 'sapi perah' bagi perkebunan dan industri kolonial. Sehingga seorang pemikir Jerman, Friedrich Engels berkata dalam suratnya kepada Karl Kautsky, temannya, bahwa Rakyat di pulau Jawa ditahan dalam kebodohan primitif dan 70 juta Mark (tahun 1884) setiap tahunnya didapat oleh kas kolonial Belanda. Tidak aneh jika organisasi modern yang pertama di Indonesia lahir pada tahun 1905, yaitu Serikat Pekerja Kereta api (SS Bond). Tiga tahun kemudian baru berdiri organisasi politik pertama yaitu Boedi Oetomo, dan tahun 1912 berdiri partai politik pertama yaitu Indische Partij, yang beranggotakan orang-orang demokrat progresif Belanda dan Indonesia. Tetapi, nasib ketiga organisasi ini di bawah politik kolonial juga tidak nyaman-nyaman betul. Ada banyak represi dan ada banyak pembatasan terhadap berbagai aktivitas politik, termasuk terhadap organisasi organisasi yang berdiri sesudahnya, seperti Sarekat Islam, Perkumpulan Sosial Demokratis Hindia, Perserikatan Guru Hindia Belanda, Perserikatan Pegadaian Pribumi, Serikat Buruh Pekerjaan Umum, Serikat Buruh Pabrik Gula, Serikat Buruh Percetakan, Sarekat Postel, Serikat Pegawai Kehutanan, dan Serikat Buruh Kereta Api (VSTP).
Hampir semua organisasi tersebut di muka, berusaha memperjuangkan kehidupan rakyat Indonesia, yang kian lama kian memburuk akibat politik kolonial dan krisis ekonomi pada periode Perang Dunia I. Masa itu adalah masa kelaparan bagi rakyat Hindia Belanda. Tepatnya, pemelaratan mutlak, kesengsaraan yang demikian besar, dan merajalelanya keresahan sosial. Tidak aneh jika pada tahun 1916 terjadi pemberontakan spontan yang besar di Jambi, yang membuat kaum kolonialis kalang kabut dan hanya dapat memadamkannya dengan pengerahan polisi dan tentara kolonial secara besar-besaran. Semuanya ini mendorong rakyat Indonesia untuk meningkatkan perjuangannya, mulai dari tuntutan pengurangan pajak, kenaikan upah, dan tuntutan perbaikan nasib lainnya, hingga tuntutan hak-hak demokratis sebagai bagian dari perjuangan menuntut kemerdekaan. Atas kenyataan ini, pemerintah kolonial berusaha meredam gerakan politik ini dengan membentuk “Dewan Rakyat,” yang anggota-anggotanya ditunjuk dan diangkat oleh pemerintah kolonial, pada tahun 1917. Rakyat Indonesia menolak eksistensi dari Dewan Rakyat ini, karena tidak mewakili rakyat. Kemudian, sejumlah organisasi seperti Sarekat Islam, Budi Utomo, Insulinde, Pasundan dan Perkumpulan Sosial Demokratis Hindia membentuk Konsentrasi Radikal pada tahun 1918.
Sebagai perlawanan lanjutan di lapangan politik, gabungan serikat-serikat buruh tersebut di muka melancarkan aksi mogok total pada tanggal 1 Mei 1918. Itulah, untuk pertama kalinya, hari buruh sedunia diperingati oleh rakyat Hindia Belanda/Indonesia. Dan itulah saat pertama kali hari buruh diperingati di Asia. Selanjutnya, hampir setiap tahun sampai dengan tahun 1926, hari buruh diperingati dengan berbagai macam acara oleh serikat-serikat buruh.
Mulai tahun 1927 sampai periode kemerdekaan, hari buruh sulit untuk diperingati. Baik karena kebijakan kolonial yang merepresi semua organisasi politik, maupun kebijakan pemerintah pendudukan Jepang yang menangkapi semua aktivis gerakan buruh. Baru pada tahun 1946, hari buruh kembali diperingati oleh rakyat Indonesia. Itulah kesempatan pertama kaum buruh dan rakyat Indonesia merayakannya di alam kemerdekaan, yang sepenuhnya didukung dan difasilitasi oleh pemerintah. Di sekolah-sekolah, murid-murid dikumpulkan dan berlatih menyanyi Internasionale. Di Kantor-kantor, perusahaan, dan pabrik diadakan berbagai macam perayaan. Bahkan, di desa-desa, acara peringatan dipimpin oleh Lurah atau orang-orang pergerakan lama yang masih hidup. Seorang pejuang rakyat Indonesia, almarhum Hardoyo, menulis,
“Yang menarik selain bagaikan pesta rakyat, juga permainan tarik tambang, memanjat tiang licin berminyak pelumas utk meraih hadiahnya di atas, petandingan sepak bola dan badminton ada di mana mana, termasuk satuan satuan tentara dan kelasykaran semua ikut, dan jangan lupa acara kesenian seperti lomba nyanyi kroncong dan lomba koor atau paduan suara terbaik. Jangan lupa, semua acara ini termasuk acara khusus bagi anak anak SD.”
Penting diperhatikan, pada tanggal yang sama dan untuk tujuan peringatan yang sama pula, Barisan Boeroeh Wanita yang dipimpin oleh S.K Trimoerti membuka pelatihan dua bulan untuk calon pimpinan buruh perempuan.
Melihat realitas yang demikian ini, tentunya tidak aneh jika 1 Mei di tahun 1948, dua ratus hingga tiga ratus ribu orang buruh, tani dan pemuda membanjiri alun-alun kota Yogyakarta untuk menghadiri rapat akbar. Catatan Pramoedya Ananta Toer menunjukkan, Wakil Presiden dan Jendral Soedirman menghadiri rapat akbar tersebut, sembari melakukan upacara peletakan batu pertama Tugu Pahlawan. Hari buruh pada tahun tersebut dirayakan juga di kota-kota wilayah Republik, yaitu Magelang, Purworejo, Madiun, Kediri, Blitar, Cepu, Bojonegoro, Pati, Kutaraja Banda Aceh, Bukittinggi dan lain-lain tempat. Ini tanggal penting bagi sejarah perjuangan buruh, karena pada 1 Mei 1948, pemerintah Soekarno melalui UU Kerja no.12/1948 telah menetapkan 1 Mei sebagai tanggal resmi Hari Buruh. Lebih tepatnya dalam Pasal 15 ayat 2 UU No. 12 tahun 1948 tersebut berbunyi: "Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja". Artinya, UU tersebut mengakui bahwa 1 Mei sebagai hari kemenangan kaum buruh. Dan selama pemerintahan Soekarno, 1 Mei terus diperingati oleh kaum buruh di Indonesia.
Cuplikan pengalaman sejarah ini menunjukkan, Satu Mei yang hingga sekarang masih harus terus diperjuangkan sebagai hari buruh, bukanlah sesuatu yang asing. Ia adalah bagian dari sejarah perjuangan rakyat Indonesia di dalam mewujudkan kemerdekaan, di dalam mewujudkan pembebasannya dari cengkeraman kolonialisme, dan mengisi kemerdekaan tersebut dengan berbagai macam aktivitas. Rejim Orde Baru di bawah Jendral Soeharto-lah yang menghapus eksistensi dari hari buruh ini, baik secara praktis maupun secara ideologis.
Celakanya, setelah periode reformasi berlangsung sepuluh tahun, mereka yang sekarang duduk di panggung kekuasaan juga tidak cukup sadar tentang arti penting dari kaum buruh. Tambah Celaka lagi, dari sembilan partai pemenang pemilu tidak satu pun yang mengupayakan tanggal 1 Mei, sebagai hari perjuangan rakyat pekerja, sebagai bagian dari hari buruh internasional. Tidak penting lagi soal ada libur atau tidak ada libur nasional bagi peringatan atas tanggal 1 Mei.
ESENSI SATU MEI DI INDONESIA, ADALAH PERJUANGAN BURUH, PERJUANGAN RAKYAT INDONESIA DI DALAM MEWUJUDKAN KEBEBASANNYA YANG PALING MAKSIMAL SEBAGAI SEBUAH BANGSA. Sepanjang 1 Mei tidak pernah dan tidak ada usaha untuk mengakuinya, berarti tak lama lagi rebana dan gendang revolusi bertalu-talu!***
I Gusti Anom Astika, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, peneliti ISSI/JKB.
May Day dan Kisah Seorang Dorothy Day
Memanfaatkan Momentum May Day Untuk Membangun Opini Publik
Tubagus Abu Mufakhir
Hari itu, May Day 1993, suara alto yang keras memenuhi Union Square di New York,
"Bangkitlah, hai para pekerja di dunia. Bangkitlah, hai kaum yang malang di bumi." Sesaat kemudian 50.000 orang serentak menyanyikan himne lagu perjuangan buruh.
Hari itu juga menandai, hari pertama penerbitan koran tabloid delapan halaman, The Catholic Worker. Dorothy Day, 35 tahun, salah satu pendiri koran tersebut, tampak membagi-bagikan The Catholic Worker di tengah-tengah aksi. Ketika itu, Dorothy, melihat lebih banyak kebingungan daripada antusiasme pada pembaca tabloid. "Bagaimana mungkin sebuah koran radikal diterbitkan oleh orang-orang katolik? Bukankah gereja katolik anti komunis, lalu kenapa mereka mendukung gerakan pekerja?"
Tubagus Abu Mufakhir
Hari itu, May Day 1993, suara alto yang keras memenuhi Union Square di New York,
"Bangkitlah, hai para pekerja di dunia. Bangkitlah, hai kaum yang malang di bumi." Sesaat kemudian 50.000 orang serentak menyanyikan himne lagu perjuangan buruh.
Hari itu juga menandai, hari pertama penerbitan koran tabloid delapan halaman, The Catholic Worker. Dorothy Day, 35 tahun, salah satu pendiri koran tersebut, tampak membagi-bagikan The Catholic Worker di tengah-tengah aksi. Ketika itu, Dorothy, melihat lebih banyak kebingungan daripada antusiasme pada pembaca tabloid. "Bagaimana mungkin sebuah koran radikal diterbitkan oleh orang-orang katolik? Bukankah gereja katolik anti komunis, lalu kenapa mereka mendukung gerakan pekerja?"
Langganan:
Postingan (Atom)