5 June 2009

Dua Cara Menafsir Krisis Ekonomi AS (3)

Catatan untuk Roby Muhamad
Coen Husain Pontoh

MEMBACA berbagai laporan dan analisis mengenai krisis ekonomi saat ini, yang segera tampak mencolok adalah jatuhnya pasar saham global, runtuhnya pasar finansial, dan bangkrutnya korporasi-korporasi raksasa. Akibatnya kemudian: pertumbuhan ekonomi melambat, pemutusan hubungan kerja terjadi secara massif, daya beli turun, dan investasi baru mengalami perlambatan.

Tetapi, analisis murni ekonomi seperti ini, sebenarnya tidak menggambarkan secara utuh, siapa sesungguhnya yang paling menderita. Misalnya, ketika kita bicara krisis finansial, kita seperti menerima begitu saja bahwa para bankir, pemegang saham mayoritas, pemilik korporat, atau manajer puncak korporasi, ikut terpuruk. Itu sebabnya, ketika pemerintahan Bush, melalui menteri keuangan Henry M. Paulson dan gubernur bank sentral Ben Bernanke, mengucurkan dana sebesar US$700 milyar, hal itu dipandang sebagai kewajaran. Logikanya, jika pemerintah tidak segera turun tangan mengintervensi pasar (baca menyelamatkan para bankir itu), dampak lebih buruk susah untuk dibendung.

Tetapi, sesuatu yangg dianggap wajar, boleh jadi tidak wajar atau hanya fatamorgana. Mari kita lihat. Finansialisasi, seperti yang telah kita diskusikan sebelumnya, tidak hanya menyeret kereta ekonomi AS ke jurang kebangkrutan tapi, yang lebih esensial telah membelah rakyat Amerika sebegitu senjangnya. Dalam kampanye presiden AS yang baru lalu, kita sering mendengar istilah Wall Street versus Main Street, untuk menggambarkan sekelompok kecil masyarakat yang kaya-raya berhadapan dengan mayoritas yang berpendapatan menengah bawah.

Pembelahan sosial itu terjadi, karena finansialisasi telah menyebabkan transfer kekayaan yang berlipat kepada kelompok kaya, yang disebut oleh ahli ekonomi-politik Samir Amin sebagai kelompok oligopoly-finance capital. Itu sebabnya, bagi Amin, apa yang disebut sebagai “financialization of the system” tak lain adalah kebijakan ekonomi baru yang dikontrol oleh kepentingan kelompok oligopoly-finance capital tersebut.

Data berikut menunjukkan, dari tahun 1950 hingga 1970, setiap tambahan pendapatan satu dollar yang dibut oleh 90 persen kelompok masyarakat bawah, maka mereka yang berada di atas struktur piramida sosial yakni, kelompok 0,01 persen memperoleh tambahan pendapatan sebesar $162. Sebaliknya, dari tahun 1990 hingga 2002, untuk setiap tambahan pendapatan satu dollar yang dibuat oleh 90 persen kelompok bawah, maka kelompok 0.01 persen (saat ini sekitar 14.000 rumah tangga) membuat pendapatan sebesar $18 ribu. John Bellamy Foster dan Fred Magdoff, dalam buku terbarunya “The Great Financial Crises Causes and Consequences” (2009), mengatakan, di AS satu persen kelompok kaya secara bersama-sama memiliki kekayaan dua kali lipat ketimbang 90 persen penduduk yang ada di anak tangga piramida. Jika ukuran ini disederhanakan dalam wujud kekayaan finansial, di luar kepemilikan atas rumah, maka satu persen populasi tadi memiliki pendapatan empat kali lebih besar dibandingkan dengan yang 90 persen populasi. Antara tahun 1983 hingga 2001, satu persen teratas populasi memperoleh 28 persen dari pertumbuhan pendapatan nasional, atau sebesar 33 persen dari total keuntungan bersih, dan 50 persen dari keseluruhan pertumbuhan sektor keuangan. Sementara, menurut laporan harian The New York Times (1/30/2009), pendapatan dari 400 keluarga terkaya di AS pada 2006, meningkat hampir 23 persen atau rata-rata $263 juta, dibanding tahun sebelumnya. Dengan kata lain, menurut Robert S. McIntyre dari Citizens for Tax Justice, pendapatan kelompok ini meningkat sebesar tiga setengah kali lipat yang mereka peroleh pada 1996 yakni, sebesar $74 juta

Ekonom Ramaa Vasudevan menambahkan, pada 2004 satu persen populasi tersebut memperoleh 14 persen dari total pendapatan nasional setelah dipotong pajak, dimana angka ini bertambah dua kali lipat dari sebesar 7.5 persen pada 1979. Dalam periode yang sama, bagian pendapatan yang ditangkup oleh lima persen populasi terbawah justru jatuh dari 6.8 persen menjadi 4.9 persen.

Dalam lingkup yang lebih mikro, majalah ekonomi Forbes edisi 2005, mendaftar bahwa jumlah keluarga superkaya di AS sebanyak 25 ribu. Jumlah ini, lebih rendah dibanding pertengahan 1990an yang mencapai 30 ribu. Secara geografis, para keluara superkaya itu 27 persennya tinggal di New York, 11 persen di Pennsylvania, 10 persen di Massachussets, dan hanya 8 persen yang tinggal di California.

Masih menurut Forbes, setengah dari para keluarga superkaya itu adalah lulusan universitas yang dikategorikan sebagai Ivy League Universities, 77 persen dari mereka memliki rumah lebih dari satu (25 persennya memiliki tiga atau lebih rumah) tapi, hanya 400 keluarga superkaya yang memiliki kapal pesiar supermewah (yacht) pribadi. Bahkan, gubernur bank sentral Ben Bernanke, seperti dikutip harian The New York Times (March 1, 2007) tidak ragu untuk mengatakan, bahwa pada September 2006, 60 keluarga terkaya AS diperkirakan memiliki kekayaan sebesar $630 milyar, lebih tinggi 10 persen ketimbang tahun sebelumnya.

Tetapi, celakanya, 400 keluarga terkaya itu hanya membayar tidak lebih dari $18 milyar pajak pendapatan federal, pada 2006 atau rata-rata $45 milyar dari total pendapatan sebesar $105 milyar. Menurut data yang dipublikasi lembaga Internal Revenue Service (NYT, 1/30), angka pembayaran pajak pendapatan ini adalah yang terendah dalam 15 tahun terakhir. Bandingkan dengan angka $1 trilyun yang dibayarkan oleh pembayar pajak individual pada 2006.

Distribusi kekayaan ini, dengan segera saja menyadarkan kita bahwa yang paling terpukul akibat krisis ekonomi ini adalah mereka yang termasuk dalam kelompok 90 persen tersebut. Sementara, yang satu persen atau 0.01 persen, justru diselamatkan dengan kebijakan dana talangan sebesar $700 milyar tersebut.

Ambil contoh kasus John Alexander Thain, mantan chief executive officer (CEO) Merrill Lynch sebelum korporasi ini merger dengan Bank of America. Kolumnis harian The New York Times, Maureen Dowd, mengatakan, jika John McCain terpilih sebagai presiden, maka Thain berpeluang besar menjadi menteri keuangan. Nah, ketika Merrill Lynch divonis bangkrut, Thain memperoleh pesangon sebesar $10 juta. Tatkala Merrill Lynch terpaksa merger dengan Bank of America (BofA), Thain tetap menjadi eksekutif puncak di sana sebagai kepala BofA. Saat pemerintah turun tangan mengucurkan dana bailout sebesar $15 milyar kepada Merrill Lynch dan Bank of Amerika, sebagian dari dana tersebut yakni antara $3 milyar hingga $4 milyar digunakan Thain untuk membayar bonus karyawan Merrill Lynch. Selain itu, ketika pekerjaan dan upah buruh perusahaannya dipangkas, Thain malah membelanjakan dana sebesar $1.22 juta untuk mendekorasi ulang kantornya.

Itu sebabnya, mengapa muncul pernyataan dalam masa booming, “keuntungan hanyalah milik yang 1 persen,” sementara di masa krisis “yang 90 persen pun harus menanggung kerugianya.” Atau dalam kosakata marxian yang terkenal, “produk semakin tersosialisasi tapi, kapital semakin tersentralisasi,”

Fakta-fakta berikut memperkuat kesimpulan ini. Ekonom Dean Baker dari Menurut laporan serikat buruh terbesar di AS, The American Federation of Labor and Congress of Industrial Organizations (AFL-CIO), krisis yang disebut-sebut sebagai yang terparah sejak depresi ekonomi 1930an, telah menyebabkan terjadinya gempa besar di sektor perburuhan. Ekonom Dean Baker dari Center for Economic and Policy Research, mencatat angka pengangguran melonjak menjadi 6.1 persen pada Agustus 2008, tertinggi sejak September 2003. Kelompok pengangguran ini, menurut Baker menyebar di hampir seluruh kelompok demografis, walaupun yang paling terpukul adalah kelompok perempuan dimana peningkatannya dari 0.7pp menjadi 5.3 persen. Perempuan kulit hitam menunjukkan peningkatan poin persentase angka pengangguran sebesar 1.6 persen menjadi 9.1 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran penduduk kulit hitam secara keseluruhan bertambah 0.9 pp menjadi 10.6 persen. Demikian juga penduduk keturunan hispanik, dimana tingkat penganggurannya bertambah sebesar 0.6 pp menjadi 8.0 percent, dimana ini adalah rekor tertinggi sejak Juli 2003 yang mencapai 8.1 persen.

Dari sisi tingkat pendidikan, Baker mengatakan, buruh di seluruh level pendidikan juga memperlihatkan peningkatan jumlah pengangguran, dimana rekor tertinggi dipegang oleh buruh yang tidak melampaui jenjang pendidikan sekolah menengah. Pada kelompok ini, tingkat pengangguran bertumbuh sebesar 1.1 persen menjadi 9.6 persen, tertinggi sejak Oktober 1994.

Di lihat dari segi usia, penduduk berusia lanjut menunjukkan tingkat kekakuan yang lebih tinggi. Sebagai misal, hingga akhir tahun 2007, pekerjaan yang tersedia buat mereka yang berusia lebih dari 55 tahun meningkat sebanyak 1,046,000. Sementara itu, pekerjaan buat mereka berusia di bawah 55 tahun berkurang sebanyak 1,322,000. Pengurangan terbesar terjadi pada mereka yang berusia antara 35 dan 44 tahun, dimana angkanya jatuh sebanyak 932,000 or 2.7 persen. Pekerjaan yang tersedia bagi laki-laki di kelompok umur ini, juga jatuh sebanyak 554,000 or 3.0 percent.

Data lain dalam seri rumah tangga, juga menunjukkan melemahnya pasar kerja. Misalnya, jumlah buruh paruh-waktu meningkat dimana saat ini jumlahnya mencapai hampir 1.8 juta. Data lain mengindikasikan, tingkat kehilangan pekerjaan di sektor swasta mengalami percepatan yakni, 101 ribu pekerjaan di bulan Agustus. Sektor swasta dilaporkan, kehilangan rata-rata 92 ribu pekerjaan selama tiga bulan terakhir.

Dari keseluruhan sektor yang kehilangan pekerjaan pada Juli, sektor manufaktur adalah yang paling terpukul yakni, kehilangan 61 ribu, dimana yang terbesar disumbangkan oleh sektor automobil yakni, 39 ribu. Hingga akhir tahun lalu. sektor automobil ini kehilangan 129 ribu pekerjaan, atau 12.9 persen dari total pekerjaan. Adapun perdagangan retail, kehilangan 19.900 pekerjaan, terutama disebabkan hilangnya 14.100 pekerjaan di toko-toko yang menjual automobil dan komponen-komponen automobil.

Pekerjaan di sektor jasa juga hilang sebesar 53,400 di bulan Agustus. Ini berarti, sejak Januari sektor ini kehilangan pekerjaan sebesar 279 ribu, atau 7.8 persen. Hanya sektor pelayanan kesehatan yang menunjukkan pertambahan jumlah pekerjaan yakni, 26.900. Sektor lain yang bertambah pekerjaannya, adalah pemerintahan lokal dan provinsi, yang bertambah sebesar 18 ribu.

Angka pengangguran ini, ternyata terus bertambah. Jumlahnya bahkan melampaui analisis paling muram sekalipun, dimana pada Desember 2008 mencapai 524 ribu. Angka ini menyumbang sebesar 7.2 persen tingkat pengangguran nasional. AFL-CIO mencatat, di bawah pemerintahan Bush, tahun 2008 adalah tahun terburuk dalam hal jumlah orang yang kehilangan pekerjaan, sejak tahun 1945. Pada tahun itu, jumlah buruh yang kehilangan pekerjaannya mencapai angka 2.6 juta. Adapun The federal Bureau of Labor Statistics, mencatat, sekitar 11.1 juta tenaga kerja Amerika adalah pengangguran.

Data pengangguran terkini, menurut harian The New York Times (Feb. 2), mencapai 7.2 persen. tertinggi dalam kurun waktu 16 tahun terakhir. Berdasarkan gambaran pada Januari 2009 para ekonom memperkirakan, setiap bulannya jumlah pekerjaan yang hilang adalah sebesar 600 ribu.

Kembali mengutip Dean Baker, ketika pasar kerja mengalami pelemahan, kekuatan tawar-menawar buruh terhadap majikan juga turut melemah. Hasilnya, tingkat upah menurun hingga lebih dari 2 persen di belakang tingkat inflasi tahun 2007. Sementara, bagi kebanyakan buruh, upah adalah jumlah keseluruhan pendapatan mereka. Jadi, jika daya beli mereka turun sebesar 2 persen, itu berarti ekivalen dengan meningkatnya poin persentase tingkat pajaknya sebesar 2 persen.***

Artikel Terkait Berdasarkan Kategori:




0 komentar: